Suzuki
21 December, 2018

Bandung – Minum teh, kini tidak lagi hanya dilakukan di pagi ataupun sore hari. Minum teh kini sudah menjadi gaya hidup khusunya kaum milenial. Terbukti, saat ini minuman teh dalam kemasan botol siap minum telah menghiasi seluruh mini market dengan berbagai merk dan ukuran. Ini artinya konsumsi minum teh telah meningkat khususnya pada kaum muda.

“Gairah untuk mengonsumsi teh memang telah mengalami peningkatan, tapi bukan dalam bentuk teh curah ataupun seduh, melainkan sudah dalam bentuh cair atau kemasan,” terang Dadan Rohdiana, Kepala Bidang Penelitian Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) saat dihubungi Media Perkebunan.

Lebih lanjut, menurut Dadan bisa saja teh dalam bentuk kemasan tersebut berbahan baku teh impor yang sudah dalam bentuk ekstrak yang kemudian diolah dan dikemas. Padahal yang diinginkan sebenarnya adalah peningkatan konsumsi teh dalam bentuk curah ataupun seduh.

Meski begitu, Dadan mengakui, bahwa sebenarnya kualitas teh Indonesia tidak kalah dengan produk teh dari luar. Buktinya teh Indonesia masih banyak diminati diluar negeri. Bahkan tidak sedikit merk teh kemasan yang berasal dari daun teh dalam negeri yang mempunyai harga yang relatiif tinggi, dan penikmat teh di dalam negeri pun masih bisa menikmatinya.

Meski sebagian besar teh kelas premium diekspor melalui lelang, Sebut saja teh Walini, Kayu Aro, Rolas, atau Tambi. Merk-merk tersebut cukup mewakili teh Indonesia yang mempunyai rasa dan aroma yang sangat sensasional.

Atas dasar itulah, Dadan membenarkan bahwa saat ini pemerintah bersama pelaku usaha berkomitmen untuk terus meningkatkan produksi nasional guna memenuhi permintaan pasar baik dari dalam atau pun luar negeri.

Salah satu komitmen pemerintah untuk meningkatkan produksi teh dan sudah mulai terasa dampaknya sekarang adalah Gerakan Penyelamatan Agribisnis Teh Nasional (GPATN) yang digulirkan di tahun 2014-2016.

terang Dadan Rohdiana, Kepala Bidang Penelitian Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK)

terang Dadan Rohdiana, Kepala Bidang Penelitian Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK)

Berharap GPATN Dilanjutkan
Melihat suksesnya program tersebut maka diharapkan agar ada program sejenis GPATN yang bisa dilanjutkan. Sebab dinilai program tersebut telah terbukti dapat meningkatkan produksi teh nasional.

“Kita bersama pelaku usaha perkebunan lainnya berharap agar program sejenis GPATN ini bisa dilanjutkan kembali di tahun 2019, sehingga produksi teh nasional bisa meningkat di tahun-tahun berikutnya,” ujar Dadan.

Terbukti, menurut prediksi Dadan bahwa produksi teh tahun 2018 bisa mencapai 140.234 ton, angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan data di tahun 2017 yang mencapai 139.362 ton.

Hal senada diungkapkan oleh Bambang, Direktur Jendreal Perkebunan, Kementerian Pertanian melalui perbaikan dan pembenahan pada budidaya tanaman teh maka di tahun 2018 mulai menunjukkan peningkatan produksi dari 139,36 ribu ton menjadi 140,23 ribu ton sampai dengan September 2018.

Alhasil, komoditas teh turut berkontribusi terhadap perekonomian nasional. Terbukti, berdasarkan catatan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian bahwa ekspor teh meningkat 1 persen dari tahun 2016 sebesar Rp. 1,51 triliun menjadi Rp. 1,53 triliun pada tahun 2017, dan sampai dengan September 2018, kontribusi ekspor teh sudah mencapai Rp. 1,23 triliun.

“Salah satu diantarnya yaitu Rusia, Malaysia dan Pakistan adalah 3 negara tujuan ekspor teh Indonesia dengan kontribusi mencapai 41 persen,” kata Bambang.

Petani Teh Wajib Bermitra
Sehingga, Bambang berkomitmen untuk terus memajukan teh nasional diantaranya melalui sinergitas dan peran semua pihak, terutama petani dan industri untuk meningkatkan daya saing teh nasional. Ini karena menurut amanat UU, petani teh wajib hukum nya bermitra dengan industrinya.

“Jadi mari kita tingkat kan mutu teh Indonesia, saya harap peran Dewan Teh Indonesia (DTI) untuk mendorong munculnya teh Indonesia yang ber-IG dan memiliki kualitas sesuai dengan permintaan pasar,” himbau Bambang

Sebab, menurut catatan Bambang, selama 5 tahun ini, bentuk perhatian dan komitmen Menteri Pertanian dalam pengembangan komoditas perkebunan sangat tinggi terutama untuk mengangkat produksi teh nasional.

Diantaranya melalui GPATN di tahun 2014 untuk pengembangan teh, Kementerian Pertanian melalui Ditjen Perkebunan mengalokasikan pengembangan teh seluas 11.310 hektar yang terdiri dari intensifikasi 6.870 hektar dan rehabilitasi 4.440 hektar.

“Adapun lokasi pengembangan tersebut dipilih sesuai lokasi yang ditetapkan Menteri Pertanian menjadi kawasan pengembangan teh nasional salah satunya prov. Jawa Barat dengan kontribusi produksi teh nasional mencapai 71 persen,” jelas Bambang.

Sehingga, Bambang berharap kedepan adalah bagaimana mempertahankan areal teh nasional sekaligus meningkatkan produktivitas dan mutu nya. Juga perlu diperhatikan terkait keamanan pangan, “karena untuk produk teh yang diekspor harus disesuaikan dengan standarisasi permintaan negara tujuan ekspor,” pungkas Bambang. YIN