13 September, 2019

Tahun 1999-2009 pertumbuhan luas lahan kelapa sawit adalah 10,8% /tahun terdiri dari petani 9,5% dan perusahaan 12,3%. Tahun 2010 ada moratorium tetapi periode 2010-2018 luas lahan tetap tumbuh 6,9%/tahun terdiri dari petani 6,1% dan perusahaan 7,7%.

“Tahun 2004-2008 luas lahan bertambah 9 juta ha dan benih sawit yang terserap pasar 1,7 miliar. Beli benih tahun ini maka tahun depan baru tanam. Tahun 2017 ke 2018 data luas lahan tiba-tiba bertambah 5 juta ha dari 12 juta ha menjadi 17 juta ha. Tetapi benih sawit justru tidak laku, jadi dari mana sumber benihnya. Kalau benar lahan bertambah maka semua perusahaan benih tidak ada yang akan sanggup memenuhinya. Antara penambahan luas lahan dan penjualan benih tidak nyambung,” kata Tony Liwang, dari PT Dami Mas Sejahtera (Sinarmas agribusiness and food).

Dalam 6 tahun terakhir 82% benih yang diserap pasar berasal dari 5 perusahaan sedang 18% oleh 14 perusahaan lain. Lima besar produsen adalah PPKS, Socfindo, Dami Mas, Lonsum, Tunggal Yunus. Artinya program PSR pun harus memperhatikan hal ini.

Produksi CPO tahun 2010-2018 untuk petani tumbuh 5,7%/tahun sedang perusahaan 9,8%. “Kelihatannya bagus tetapi kalau lihat pertumbuhan produktivitas berbahaya. Dalam periode yang sama pertumbuhan produktivitas CPO petani -1%/tahun sedang perusahaan masih 2%/tahun. Demikian juga PKO. Artinya sebenarnya petani rugi. Hal ini bisa dikoreksi dengan ganti tanaman yang produktivitasnya tinggi. Disinilah PSR sangat penting,” katanya.

Secara umum pertumbuhan produktivitas CPO, PKO dan minyak 0,8%. Terkesan bagus dan positif tetapi tantangan yang dihadapi juga berat. Pertumbuhan petani yang -1% dan perusahaan 2% tidak seimbang dengan pertumbuhan luas lahan 6,9%. Tantangan lainnya adalah upah naik 8,72% dari 2017 ke 2018.

“Dengan kondisi seperti itu maka kalau tahun ini tanam maka 10 tahun lagi tidak dipanen karena tidak menguntungkan. Apa yang dialami karet 10 tahun lalu, cengkeh 20 tahun lalu akan terjadi pada sawit kalau tidak segera diperbaiki,” kata Tony.

Supaya masih ada keuntungan maka produktivitas harus naik 30%. Padahal ada tantangan seperti pembunuh diam-diam ganoderma yang bisa menurunkan produktivitas 35% dan cekaman kekeringan yang bisa menurunkan produktivitas 30%, belum lagi kenaikan UMP. “10 tahun lagi kalau produktivitas CPO masih 6 ton/ha maka akan berat sekali,” katanya.