7 August, 2019

JAKARTA, Perkebunannews.com – Volume ekspor Indonesia khusus CPO dan turunannya pada semester pertama 2019 mengalami penurunan hampir di semua negara tujuan utama ekspor Indonesia, seperti India (17 persen), AS (12 persen), Pakistan (10 persen), dan Bangladesh (19 persen). Hanya China yang menaikkan permintaan CPO dari Indonesia.

India, misalnya. Ekspor CPO Indonesia pada semester pertama 2019 tersungkur 17 persen. Pada 2019 ekspor CPO ke India mencapai 2,1 juta ton. Sedangkan pada semester 1 2018 ekspor CPO sebesar 2,5 juta ton.

Menurut Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono, turunnya ekspor CPO ke India lantaran Indonesia kalah bersaing dengan Malaysia khususnya untuk refined products. “Bea masuk refined products dari Indonesia lebih tinggi daripada Malaysia dengan selisih 9 persen. Tarif bea refined products dari Malaysia adalah 45 persen dari tarif berlaku 54 persen,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Mukti, Uni Eropa yang menggaungkan RED II ILUC dan tuduhan subsidi biodiesel ke Indonesia sedikit banyak juga telah mempengaruhi ekspor Indonesia ke Uni Eropa. Perang dagang China dan Amerika Serikat juga telah mempengaruhi pasar minyak nabati dunia.

Sementara itu ekspor Indonesia khusus CPO dan turunannya pada semester pertama 2019 ke Uni Eropa mengalami stagnasi. Kenaikannya hanya mampu mencapai 0,7 persen saja atau dari 2,39 juta periode Januari – Juni 2018 naik tipis menjadi 2,41 juta ton periode yang sama 2019.

Kenaikan ekspor CPO hanya ke China. Gapki mencatat, pada Semester I 2019, China membukukan impor CPO dan turunannya (tidak termasuk biodiesel dan oleochemical) sebesar 39 persen atau dari 1,82 juta ton periode Januari – Juni 2018 melambung menjadi 2,54 juta ton pada periode yang sama 2019.

Meningkatnya permintaan dari China merupakan salah satu dampak dari perang dagangnya dengan AS. Negeri Tirai Bambu ini mengurangi pembelian kedelai secara signifikan dan menggantikan beberapa kebutuhan dengan minyak sawit.

Dengan demikian, volume ekspor khusus CPO dan turunannya saja (tidak termasuk biodiesel dan oleochemical) semester I 2019 hanya mampu terkerek 7,6 persen atau dari 14,16 juta ton pada Januari – Juni 2018 naik menjadi 15,24 juta ton periode yang sama 2019.

Gapki menyebutkan, secara umum kinerja ekspor minyak sawit Indonesia (CPO dan turunannya, biodiesel dan oleochemical) pada semester 1 membukukan kenaikan hanya 10 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Pada periode Januari – Juni 2019, kinerja ekspor minyak sawit tercatat 16,84 juta ton. Sedangkan pada 2018 periode yang sama kinerja eskpor mencapai 15,30 juta ton.
Dari sisi harga, sepanjang semester pertama 2019 harga CPO global bergerak di kisaran USD 492,5 – USD 567,5 per metrik ton dengan harga rata-rata di kisaran USD 501,5 – USD 556,5 per metrik ton. Sementara produksi minyak sawit pada Juni menunjukkan trend pernurunan sebesar 16 persen dibandingkan pada Mei lalu atau dari 4,73 juta ton di Mei menurun menjadi 3,98 juta ton di Juni. Sementara itu stock minyak sawit Indonesia di Juni ini masih bertahan di level sedang yaitu 3,55 juta ton.

Sedangkan kinerja serapan biodiesel semester I 2019, Gapki menyebutkan ada kenaikan 114 persen. Sepanjang Januari – Juni 2019 penyerapan biodiesel telah mencapai 3,29 juta ton. Pada 2018 periode yang sama penyerapan biodisel sebesar 1,35 juta ton. (YR)