26 March, 2019

Rektor INSTIPER, Dr. Purwadi, mengajak semua dosen untuk peka terhadap semua perubahan yang ada. Kemenristekdikti telah memberikan kebijakan dalam menghadapi revolusi industri 4.0 melalui penyesuaian kurikulum, peningkatan kapasitas dosen, dan peningkatan fasilitas laboratorium.

Tantangan dunia pendidikan tinggi saat ini tidak hanya berasal dari input mahasiswa yang merupakan generasi milenial, namun juga adanya revolusi industri generasi 4.0 dan tantangan dari dunia usaha dan industri yang akan memanfaatkan lulusan dari perguruan tinggi. Memahami kondisi tersebut, INSTIPER mengajak seluruh dosennya untuk melakukan kunjungan industi ke pabrik downstream komoditas perkebunan yang telah memanfaatkan teknologi tinggi seperti artificial intelligence dan robotik untuk pengolahan produk-produknya.

Sebanyak 73 orang dosen INSTIPER Yogyakarta melakukan kunjungan industri dan rapat kerja dosen di Surabaya pada 22-24 Maret 2019. Kunjungan industri di beberapa pabrik yang telah memanfaatkan teknologi tinggi ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran nyata industri pengolahan komoditas perkebunan yang akan menyerap lulusan INSTIPER kelak. Dengan pengetahuan perkembangan di bidang industri, para dosen diharapkan mampu menyesuaikan materi kuliah dan cara perkuliahan sehingga lebih sesuai dengan dunia usaha dan industri saat ini. Saat mengajar, para dosen diharapkan mampu menghubungkan antara teori perkuliahan dengan perkembangan teknologi yang ada saat ini.

Kunjungan industri dosen INSTIPER dilakukan ke PT. Santos Jaya Abadi yang merupakan pabrik dari Kopi Kapal Api, PT. Wilmar Nabati Indonesia di Gresik yang merupakan pabrik pengolahan produk turunan dari crude palm oil (CPO) kelapa sawit, dan kunjungan industri ke PT. Mega Surya Mas Sidoarjo yang juga pabrik pengolahan produk turunan CPO.

Pada kunjungan ke PT. Santos Jaya Abadi, berkesempatan bertemu dan mendapat cerita kisah sukses dari Soedomo Mergonoto yang merupakan Direktur Utama Kapal Api. Soedomo menyampaikan,”Pada saat ini Kapal Api menjadi leader dalam industri kopi di Indonesia dan mengolah 350 ton kopi per hari. Posisi ini kami peroleh karena kami memanfaatkan teknologi tinggi dalam pengolahannya. Kami perupakan perusahaan pertama di Indonesia yang membeli alat roasting kopi berteknologi tinggi dari Jerman. Inovasi dan keinginan untuk maju merupakan kunci kesuksesan dalam melakukan usaha”.

Sedangkan pada kunjungan industri ke PT. Wilmar Nabati Indonesia di Gresik dan PT. Mega Surya Mas di Sidoarjo, para dosen berdiskusi dan memperdalam pengetahuan tentang industri pengolahan crude palm oil (CPO) dan turunannya serta melakukan plant tour untuk melihat perkembangan pengolahan produk turunan CPO yang telah memanfaatkan teknologi tinggi seperti pengolahan CPO untuk bahan bioavtur, biodiesel, dan produk turunan lainnya. Pengolahan CPO akan meningkatkan nilai tambah dari CPO tersebut, semakin hilir produk yang dihasilkan maka akan semakin tinggi keuntungan yang bisa didapatkan daripada menjual produk tersebut dalam bentuk mentah seperti CPO.

Pada kunjungan ke PT. Wilmar Nabati Indonesia unit Gresik, yang merupakan perushaan industri hilir CPO terbesar di Indonesia, diterima oleh Saronto, Direktur Business Unit Head PT. WINA Unit Gresik beserta jajaran manajer. Setelah melakukan diskusi bersama tentang perkembangan pengolahan produk hilir dari CPO, para dosen diajak untuk melakukan plant tour melihat pabrik yang ada di area PT. WINA Gresik yang tidak hanya mengolah produk turunan CPO namun juga pabrik pupuk dan pabrik terigu yang dimiliki PT. WINA Unit Gresik.