Suzuki
24 April, 2019

Jakarta – Total daratan Indonesia: 191,1 juta hektar. Dari angka tersebut, seluas 46,6 juta hektar adalah lahan basah, dan dari lahan basah tersebut seluas 34,1 juta hektar adalah lahan rawa, dan dari angka tersebut sekitar 19 juta hektar berpotensi untuk dijadikan lahan pertanian.

Hal tesebut mengemuka dalam Diskusi Forum Wartawan Pertanian (FORWATAN) bertemakan “Program Serasi Meningkatkan Produktivitas” di Jakarta.

“Jadi ada 14.185.558 hektar berpotensi untuk lahan sawah, 3.143.015 hektar untuk tanaman hortikulturan dan 1.862.283 hektar untuk tanaman tahunan (perkebunan). Sehingga totalnya ada 19.190.856 hektar lahan rawa yang berpotensi dikelola untuk pertanian,” kata Prof Dedi Nursyamsi, Staf Ahli Menteri Bidang Infrastruktur Pertanian.

Melihat hal tersebut, Dedi mengatakan memang sudah sewajarnya Indonesia bisa memanfaatkan lahan rawa tersebut. Hal ini mengingat peningkatan jumlah penduduk dalam 5 tahun terakhir dengan laju 1,34% per tahun atau sekitar 3,5 juta jiwa per tahun. Artinya kebutuhan pangan dan lahan terus meningkat setiap tahunnya.

“Bahkan lahan rawa tersebut bisa diolah tidak hanya untuk tanaman pangan saja tapi juga hortikultura dan perkebunan,” tambah Made Subiksa, Peneliti dari Balai Penelitian Tanah.

Sebab, menurut Made berbudidaya di lahan rawa berbeda dengan di lahan kering. Meski begitu bukan tidak mungkin bisa meningkatkan produktivitas. Sebab beberapa daerah sudah membuktikan diri bisa berbudidaya dilahan rawa dengan produktivitas yang tidak kecil. Salah satunya dengan menggunakan dolimit.

Sekedar catatan, saat ini PT Polowijo Gosari paling siap untuk memenuhi kebutuhan dolomit di Indonesia serta mendukung kebutuhan dolomit untuk pertanian Indonesia. Hal ini lantaran potensi tambang dolomit yang dimiliki Polowijo sebesar 300 juta ton. Dengan produksi dolomit setahun berjumlah 1 juta ton. Produk andalan perusahaan untuk perkebunan sawit adalah Dolomit Premium 100.

“Jadi penggunaan dolomit di lahan rawa itu sendiri tidak hanya untuk pembenah tanah tapi juga berfungsi sebagai pupuk,” jelas Made.

Terbukti, Made menguraikan, fungsi dolomit sebagai pembenah tanah karena bisa meningkatkan pH tanah, mengurangi toksisitas Al dan Fe, memperbaiki sifat fisik tanah, meningkatkan aktivitas mikroba dan mempercepat mineralisasi bahan organik.

“Sedangkan dolomite berfungsi sebagai pupuk karena dolomit secara langsung meningkatkan unsur hara Ca dan Mg dan secara tidak langsung bisa meningkatkan ketersediaan hara P, N dan K serta unsur mikro,” terang Made.

Atas dasar itulah Sarwo Edhi, Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Kementerian Pertanian optimis melalui program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (SERASI) bisa berjalan. Sebab melalui program serasi tidak hanya bisa menciptakan ketahanan pangan tapi juga petani diuntungkan karena bisa meningkatkan pendapatan masyarakat.

“Maka harus diakui bahwa dasar program SERASI ini dalam rangka bukan sekedar peningkatan produksi dan produktivitas tapi juga pendapatan petani,” ucap Dedi.

Adapun program SERASI, menurut Dedi “dilakukan di 3 Provinsi yaitu Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan. Sebab ketiga daerah tersebut memang memiliki potensi untuk pertanian lahan rawa.” YIN