Suzuki
28 January, 2019

Tahun 2019 Ditjenbun mengalokasikan perluasan tanaman kopi arabika seluas 500 ha di Kabupaten Kerinci dan 200 ha di Kotamadya Sungai Penuh. Kopi arabika dikembangkan di lereng-lereng gunung yang selama ini tidak pernah ditanami kopi dan digabungkan dengan kayu manis sebagai tanaman penaung. Dirjen Perkebunan, Bambang, menyatakan hal ini ketika melakukan kunjungan kerja di Kerinci.

Pengembangan kopi dengan sistim fertigasi yaitu irigasi melalui pipa dari embung langsung disalurkan ke tanaman. Diharapkan jadi percontohan bagi masyarakat bahwa kopi kalau dikelola dengan baik hasilnya bisa mencapai 2 ton/ha buka hanya 600 kg. Juga bisa menjadi tempat belajar anak muda khususnya dari SMK pertanian bagaimana mengelola lahan dengan baik yaitu produktivitas meningkat dan lingkungan terjaga.

“Kayu manis merupakan kekayaan Kerinci sejak jaman Belanda. Dengan tanaman kayu manis menjadi penaung maka erosi bisa dikendalikan sekaligus tabungan petani untuk naik haji misalnya. Hidup sehari-hari mereka dari kopi arabika sedang tabungan dari kayu manis yang harganya semakin meningkat,” katanya.

Tahun 2019 bantuan untuk Kerinci mencapai Rp5 miliar terdiri dari benih, pupuk dan alat pasca panen. Sedang untuk kayu manis saat ini sedang mempersiapkan pembibitan. Pohon Induk Terpilih sudah ditetapkan sehingga tahun ini bisa dimulai.

Sedang untuk pemasaran. Kabupaten Kerinci sudah menandatangani MoU dengan Dewan Rempah Indonesia yang mendatangkan sebuah perusahaan yang akan membeli dengan harga tinggi. Petani akan dibina oleh perusahaan bekerjasama dengan dinas perkebunan untuk menghasilkan kayu manis sesuai standar yang ditetapkan.

Bupati Kerinci, Adi Rozal menyatakan luas lahan kopi Arabika di wilayahnya adalah 1800 ha dengan produksi 171 ton, produktivitas 639 kg/ha dikelola oleh 1537 petani. Sedang kayu manis luas lahan 41.000 ha dengan produksi 53.634 ton , produktivitas 2,186 ton/ha/tahun dikelola 12.733 petani. Kerinci merupakan produsen terbesar kayu manis nasional dengan kontribusi 70%. Komoditas lainnya adalah tebu dataran tinggi seluas 1.862 ha yang diolah jadi gula merah.

Dari toal luas wilayah, yang bisa dimanfaatkan hanya 49% untuk perkebunan dan pertanian, sedang 70% penduduk bekerja di bidang pertanian dan perkebunan. Lahan tidak bertambah malah semakin sempit. Karena itu pemda dengan APBD Kabupaten, provinsi dan APBN berusaha meningkatkan produktivitas lahan. Bantuan dari pusat seperti alsintan sudah diterima dan diharapkan untuk pembinaan kelompok tani, sarana produksi, pasca panen karena APBD kabupaten terbatas.