JAKARTA, Perkebunannews.com – Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong masuknya investasi, khususnya komoditas perkebunan. Guna meningkatkan ekspor, Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementan, melakukan percepatan investasi dengan menggelar silarturahmi bersama para calon invesator.

Direktur Jenderal Perkebunan, Kasdi Subagyono menyebutkan, saat ini ada 514 calon inverstor yang tertarik berinvestasi di sub sektor perkebunan. “Nilainya cukup tinggi, yakni sekitar Rp 313 triliun,” ujarnya saat acara Silaturahim dan Konsolidasi Percepatan Investasi Sektor Perkebunan di Jakarta, Kamis (19/9).

Kasdi mengatakan, dalam lima tahun mendatang (2020-2024), pemerintah menargetkan investasi sektor pertanian mencapai Rp 2.231,5 triliun atau meningkat 827 persen terdiri dari PMDN 55 persen dan PMA 45 persen. Sedangkan tenaga kerja sektor pertanian ditargetkan meningkat 3,26 juta orang atau naik sebesar 8,4 persen.

Dari target investasi tersebut, sub sektor perkebunan berkontribusi Rp 1.567,1 triliun yang didominasi kelapa sawit (integrasi sawit-sapi-jagung) 70 persen. Sedangkan tebu sebesar 26 persen, tembakau satu persen dan lainnya (karet, kopi, kakao, rempah) tiga persen.

Kasdi mengakui, meski investasi masih didominasi kelapa sawit, namun akan diarahkan ke arah hilir. Sedangkan investasi di tebu diarahkan pada pembangunan pabrik gula dan lahan plasma di luar Jawa.

Berdasarkan data dari BPS, kontribusi perkebunan sebesar 97,4 persen terhadap volume ekspor sektor pertanian dan berkontribusi 96,9 persen terhadap nilai ekspor sektor pertanian. Sub sektor perkebunan menjadi penyumbang devisa negara terbesar dari pertanian, bahkan melebihi minyak dan gas.

Kasdi mengatakan, kendala yang menghambat investasi di perkebunan menyangkut proses perizinan seperti pelepasan HGU yang sangat sulit, tidak ada kepastian waktu dan biaya. Selain itu kebijkan antara pusat dan daerah tidak sinkron. Hal inilah yang akan dipangkas. (YR)