Suzuki
25 January, 2019

Demi memperbesar pasar dalam negeri maka penggunaan biodiesel kelapa sawit didalam negeri terus diperbesar. Atas dasar itulah Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) melakukan uji coba biodiesel sawit 50% (B50) yang dimulai Jumat, 25 Januari 2019 dari Medan ke Jakarta dan kembali ke Medan.

“Kegiatan road test biodiesel B50 ini didukung oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian, dan Holding PT. Perkebunan Nusantara (Holding PTPN) yang saat ini berusaha untuk meningkatan nilai tambah dan penggunaan CPO untuk dalam dan luar negeri,” tegas Hasril Hasan Siregar, Direktur PPKS dalam keterangan tertulis yang dikirimkan ke perkebunannews.com.

Lebih lanjut, menurtu Hasril, road test dimulai dari kantor PPKS Medan, kemudian di Jakarta akan diterima oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian, Prof. Dr. M. Syakir.

“Sebab, salah satu produk hilir dari minyak sawit yang dapat dikembangkan di Indonesia adalah biodiesel yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif terutama untuk mesin diesel,” terang Hasril.

Melalui pengujian ini, Hasril mengakui bahwa biodiesel ialah bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan, tidak beracun dan dibuat dari minyak nabati. Secara kimia biodiesel termasuk dalam golongan mono alkil ester atau metil ester dengan panjang rantai 1 karbon antara 12 sampai 20. Hal ini yang membedakannya dengan petroleum diesel (solar) yang komponen utamanya adalah hidrokarbon.

“Dengan semakin tingginya harga minyak bumi akhir-akhir ini, sudah saatnya apabila Indonesia lebih meningkatkan penggunaan biodiesel khususnya berasal kelapa sawit, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor. Penggunaan biodiesel untuk kendaraan bermotor di dalam negeri yang berfungsi ganda yaitu diversifikasi produk hilir kelapa sawit dan penyediaan energi ramah lingkungan,” papar Hasril.

Hasril Hasan Siregar, Direktur PPKS

Hasril Hasan Siregar, Direktur PPKS

Disisi lain, Hasril menerangkan, sejak awal abad 20, PPKS telah menghasilkan berbagai teknologi hulu dan hilir di bidang perkelapasawitan nasional, salah satunya adalah penghasil klon-klon unggul dan bahan tanaman yang secara luas saat ini dinikmati oleh pengguna.

Dalam rangka memacu industri kelapa sawit nasional, PPKS secara khusus sejak tahun 1992 mengembangkan biodiesel minyak sawit yang di uji coba sejak tahun 2001 untuk mesin-mesin pertanian dan angkutan barang bersamaan dengan diadakannya Seminar Internasional Biodiesel di Medan.

Pada akhir tahun 2004 telah dilakukan road test (uji jalan) Medan-Jakarta dengan menggunakan biodiesel B10 (kandungan biodiesel 10% dan 90% adalah solar) pada kenderaan truk dan penumpang dengan hasil yang menggembirakan.

Dan juga pada tahun 2007 dilakukan juga road test biodiesel B10 dengan kendaraan penumpang yang memiliki teknologi mesin yang lebih modern, dengan hasil yang cukup memuaskan juga.

Tabel Biodiesel

Tabel Biodiesel

“Jadi penggunaan biodiesel dipandang menjanjikan, walaupun dari segi harga saat ini masih di atas harga solar, namun, dengan produk samping bernilai ekonomi tinggi (gliserol) dan skenario pemberian subsidi, pemanfaatan biodiesel didalam negeri memberikan manfaat ekonomi yang cukup nyata karena berkurangnya devisa untuk impor solar selama ini,” tutur Hasril.

Tidak hanya itu, Hasril menerangkan berdasarkan potensi produksi biodiesel dalam negeri dan keragaan teknisnya; serta sejalan dengan program pemerintah dalam mendiversifikasi sumber energi dengan energi yang terbarukan, maka penggunaan biodiesel perlu ditingkatkan walau saat ini sudah mencapai 2 20% (B20).

“Tahun 2019, target pemerintah terhadap penggunaan biodiesel sebesar 30%, dan seterusnya hingga tahun 2025 adalah 50%. Namun bila memungkinkan dan dilengkapi dengan data hasil penelitian yang baik sangat memungkinkan penggunaan B50 bisa dilaksanakan lebih awal,” ucap Hasril.

Artinya, Hasril menegaskan, “peningkatan penggunaan biodiesel berguna untuk meningkatkan penyerapan produk CPO khususnya didalam negeri yang akhir-akhir ini banyak mendapat hambatan dan tantangan dari luar negeri terkait dengan aspek lingkungan dan perdagangan global.” YIN