Suzuki
11 March, 2019

Kopi Indonesia masih punya banyak masalah, dan masalah terbesar di hulu. Dari segi luas tanam cukup besar yaitu 1,2 juta ha tetapi produktivitasnya rendah. Anton Apriyantono, Ketua Umum Dewan Kopi Indonesia menyatakan hal ini.

Penyebab produktivitas rendah adalah bibit unggul yang belum tersedia merata, pemeliharaan tanaman kurang intensif, kurangnya bimbingan pada petani juga sarana dan prasarana fasilitas pasca panen.

“Ini yang menjadi tantangan ke depan. Salah satu kendala yang dihadapi adalah kopi ini sebagian besar di tanam di areal hutan. Kalau areal khusus perkebunan bisa dilakukan secara intensif, tetapi kalau kawasan hutan infrastrukturnya saja sudah jadi kendala. Untuk datang dan memelihara tanaman saja petani sudah terkendala,” katanya.

Dewan Kopi Indonesia sudah minta Pusat Penelitian Kopi dan Kakao untuk hal ini dan mengembangkan teknologi perkebunan kopi di areal hutan. Anton yakin pasti ada cara untuk meningkatkan produktivitas kopi di lahan hutan.

Produksi kopi Indonesia saat ini berkisar 800.000 ton/tahun dan 60%nya robusta dan 40% arabika. Baik arabika maupun robusta perlu ditingkatkan produksinya baik melalui perluasan maupun intensifikasi.

“Arabika yang harganya lebih tinggi, pemerintah sudah mendorong perluasan penanamamannya, kita juga ikut fasilitasi. Tetapi robusta juga perlu ditingkatkan, impor kopi naik dan sebagian besar adalah kopi robusta. Industri kopi sachet yang berkembang memerlukan kopi robusta yang lebih murah dan ekonomis,” katanya.

Selain kopi robusta, trend impor kopi arabika juga naik, karena saat ini banyak kafe-kafe yang menyajikan kopi specialty impor. “Ini tidak bisa kita cegah karena menyangkut selera. Hal yang bisa kita lakukan adalah menyediakan kopi specialty Indonesia supaya bisa bersaing,” katanya.