Suzuki
17 December, 2018

Anak-anak muda yang tertarik menjadi petani kopi sekarang ada jalan yang lebih mudah. Dewan Kopi Indonesia sudah menjalin kerjasama dengan Perum Perhutani dan Bank BRI Agro untuk mencetak lebih banyak anak muda yang tertarik menjadi petani kopi.

Anton Apriyantono, Ketua Umum Dewan Kopi Indonesia menyatakan hal ini Agriphoria 2018 dan Saresehan Kopi Nasional yang diselenggarakan Ikatan Alumni dan Badan Ekskekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. “Tidak perlu punya lahan sendiri, lahan bisa menggunakan milik Perum Perhutani yang luasnya mencapai 2 juta ha. Sedang permodalan bisa menggunakan kredit dari BRI Agro,” katanya.

Tentu tidak serta merta asal anak muda yang berminat bisa langsung dipenuhi, ada persyaratannya. Orang yang tidak berpengalaman berkebun kopi misalnya, yang sama sekali nol soal bisnis ini tidak mungkin bisa ikut. “Minimal mahasiswa itu pernah magang dan PKL di kebun-kebun kopi atau usaha kopi mungkin bisa kita pertimbangkan,” katanya.

Anak muda di dorong untuk masuk ke hulu sebab dihilir kopi ini sudah berkembang, tinggal hulunya yang harus terus dibenahi. Di hulu ada masalah besar dan saat ini perusahaan multinasional sedang berusaha menguasai suply chain dengan cara langsung masuk membeli dari petani.

Dirjen Perkebunan, Bambang, menyatakan ada banyak peluang yang bisa diambil mahasiswa-mahasiswa fakultas pertanian untuk meningkatkan produksi kopi nasional. Pertama dengan menjadi pendamping petani kopi, sebab masih banyak petani kopi yang tidak mengerti GAP. Kedua dengan terjun menjadi petani kopi.

Saat ini ada upaya dari beberapa pihak untuk menyeragamkan kopi dan membuat satu jenis kopi menjadi identitas kopi Indonesia. Bambang menentang hal ini sebab kopi Indonesia sangat beragam. Keberagaman ini harus dibawa ke dunia sebagai ciri khas kopi Indonesia, tidak perlu ada satu jenis saja yang jadi unggulan.