22 November, 2019

JAKARTA, Perkebunannews.com – Harga bakal semakin terpuruh akibat beberapa regulasi yang dikeluarkan pemerintah. Setelah kenaikan cukai 23 persen pada 2020 mendatang. Kini tekanan harga semakin kuat terkait rencana revisi Peraturan Pemerintah (PP) 109. Padahal selama tiga tahun terakhir harga cengkeh sudah anjlok akibat aturan yang memboleh impor cengkeh.

Sekjen Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia (APCI), IK Budiman mengatakan, petani cengkeh semakin tertekan akibat berbagai regulasi. “Kenaikan cukai 23 persen saja sudah membuat harga cengkeh tertekan. Sekarang ditambah lagi rencana revisi PP 109,” ujarnya.

Menurut Budiman, petani cengkeh sangat bergantung pada industri hasil tembakau. Karena 90 persen komoditi cengkeh diserap pabrik rokok. Padahal tiga tahun terakhir petani cengkeh sudah terpuruk dari Rp 120 ribu/Kg turun Rp 80/kg. Hal ini akibat aturan yang membebaskan impor cengkeh.

Budiman menilai, kenaikan cukai 2020 sangat eksesif yang membuat harga cengkeh semakin jatuh. “Sekarang ditambah lagi dengan revisi PP 109. Ini tentu menimbulkan kecemasan di kelompok petani Cengkeh. Utamanya akan menekan serapan produksi cengkeh yang sangat bergantung pada industri rokok, khususnya kretek,” ungkap Budiman.

Padalah, lanjut Budiman, Indonesia merupakan produsen cengkeh terbesar di dunia. Di dalam negeri cengkeh merupakan bahan pokok selain tembakau dalam memproduksi rokok kretek. Mestinya Kementerian Kesehatan mempertimbangkan suara petani dan juga masyarakat yang langsung terdampak atas inisiatif itu. (YR)