Suzuki
20 August, 2018

Bogor – Suka tidak suka bahwa dengan tanaman bioteknologi tidak hanya dapat meningkatkan produksi ditengah-tengah terbatasnya lahan, tapi juga dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

“Bahkan tanaman bioteknologi memberikan manfaat yang cukup besar bagi lingkungan, kesehatan manusia dan hewan, serta berkontribusi untuk perbaikan kondisi social ekonomi petani dan masyarakat,” kata Paul S. Teng, Ketua Dewan Direksi The International Service for The Acquisition of Agri-biotech Applications (ISAAA), di Bogor, (20/8).

Alhasil, menurut Paul penggunaan tanaman bioteknologi meningkat sebesar 3 peren pada tahun 2017 kemarin atau setara dengan 4,7 juta hektar. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh profitabilitas yang lebih besar dan berasal dari harga komoditas yang tinggi

“Tidak hanya itu, peningkatan penggunaan bioteknologi juga disebabkan karena meningkatnya permintaan pasar baik dari dalam ataupun luar negeri, dengan begitu otomatis permintaaan beih bioteknologi pun ikut meningkat,” papar Paul.

Terbukti, berdasarkan catatan Paul, saat ini sudah ada 19 negara yang mengguanakan benih bioteknologi, diantaranya India, Pakistan, Brazil, Bolivia, Sudan Meksiko, Kolombia, Vietnam Honduras, dan Bangladesh. Hal inilah yang mendorong petani untuk mengadopsi bioteknologi bagi produksi pangan.

“Jadi memang beberapa tahun terakhir ini luasan areal tanaman bioteknologi di negera-negara berkembang kini mencapai 53 persen dari total keseluruhan area tanaman bioteknologi,” ucap Paul.

Lebih dari itu menurut, Direktur PG Economics, Graham Brookes bahwa di tahun 1996-2016 tanaman bioteknologi telah menghasilkan keuntungan sebesar $186,1 miliar bagi sekitar 17 petani.

Sehingga banyak pelaku pertanian yang mulai beralih menggunakan tanaman bioteknologi. Ini karena tidak sedikit pelaku pertanian saat ini adalah perempuan dan hanya memiliki lahan yang cukup kecil, dengan begitu maka petani berusaha untuk mencukupi kebutuhan keluarganya ditengah keterbatasan lahan.

Disisi lain, penggunaan bioteknologi bisa menjawab kerawanan pangan global yang kini telah menjadi masalah besar bagi Negara-negara berkembang. Awas, ada sekitar 108 juta orang yang hidup di negara-negara yang terkena dampak krisis pangan, dan beresiko mengalami kerawanan pangan.

“Kami telah melihat selama lebih dari 20 tahun ini bagaimana dengan mengadopsi bioteknologi di negara-negara berkembang telah berkontribusi terhadap hasil yang lebih tinggi, produksi yang lebih aman, dan peningkatan pendapatan bagi petani sehingga menurunkan angka kemiskinan, kelaparan dan kekurangan gizi,” pungkas Graham. YIN