22 October, 2019

Salah satu penyebab turunnya mutu teh Indonesia, adalah upah buruh pemetik teh yang sangat rendah. Kebun teh baik milik BUMN, perusahaan swasta maupun petani mengandalkan buruh pemetik teh.

“Dengan upah hanya Rp500/kg maka mereka memetik asal-asalan. Pemetikan yang harusnya menggunakan tangan memilih pucuk terbaik main tebas saja menggunakan arit. Akhirnya mutu teh yang dihasilkan turun,” kata Ifah Syarifah, pendiri Arafa tea, industri teh yang menghasilkan banyak produk baik untuk pasar lokal maupun ekspor.

Prinsip Ifah dalam berbisnis teh ini adalah membuat buruh pemetik teh tersenyum. Karena Arafa membeli teh dari petani dengan harga tinggi sampai Rp10.000/kg, syaratnya buruh pemetik teh harus diberi upah tinggi juga Rp2500/kg.

Dengan cara seperti ini buruh pemetik teh ternyata mampu menghasilkan pucuk teh terbaik. Buruh pemetik teh yang dibeli Arafa dalam sehari bisa mendapat Rp25.000-50.000/kg, sedang biasanya hanya Rp5000-10.000. Bahkan untuk teh putih, buruh pemetik bisa mendapat Rp200.000.

Pengalaman Ifah berhubungan dengan petani, ternyata yang mereka butuhhkan adalah kepastian pasar dan harga, bukan bibit. Petani yang mendapat bantuan bibit dari pemda membuang bibitnya karena kecil. Bagi petani kalau harga dan pasar jelas serta menguntungkan, mereka pasti bisa membeli bibit berkualitas sendiri.