Suzuki
19 February, 2019

Berbagai cara terus dilakukan oleh Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian untuk meningkatkan produksi komoditas perkebunan, salah satunya dengan meningkatkan sumber-sumber benih bersertifikat.

“Direktorat Jenderal Perkebunan menyusun program atau kegiatan membangun logistik benih perkebunan 2019-2024 di sentra/kawasan produksi komoditas perkebunan strategis (pala, lada, cengkeh, kopi, kakao, karet, kelapa dan tebu). Program atau kegiatan tersebut diberi nama BUN 50O (Benih Unggul 500 juta batang) pada 2019-2024,” kata Kasdi Subagyono, Direktur Jenderal Perkebunan (Dirjenbun), Kementerian Pertanian, kepada perkebunannews.com.

Disisi lain, Kasdi juga berkomitmen untuk mengembalikan harga karet yang tak kunjung naik. Diantaranya dengan mengurangi ekspor dan penyerapan karet petani lebih besar melalui anggaran negara.

Seperti diketahui, bahwa harga karet ditingkat petani saat ini antara 6.000 – 7.000-7000 per kilogram. Data terakhir Januari 2019 bertengger di harga Rp 6.920. Padahal harga ditingkat Internasional antara Rp 19.000 – 20.000 per kilogram.

“Melihat hal ini maka negara melalui Kementerian BUMN telah merencanakan skema serap atau pembelian karet petani dengan hqrga Rp 1.000-2.000 per kilogram di atas harga karet di tingkat petani saat pembelian. Anggaran direncanakan sebesar Rp 350 miliyar,” terang Kasdi.

Penyerapan tersebut. lanjut Kasdi ,”akan digunakan untuk memperbesar produk dalam negeri diantaranya untuk karet aspal.”

Lebih lanjut, kasdi mengungkapkan bahwa penyerapan karet petani tsb akan digunakan untuk mndorong industri berbahan karet (seperti industri ban) dalam negeri.

“Ini penting, melalui International Tripartite Rubber Council/ITRC (Thailand, Indonesia, Malaysia), ketiga negara tsb menyepakati komitmen bersama untuk pembatasan ekspor karet. Dng demikian diharapkan supply karet ke pasar dunia menurun dan harga diharapkan naik. Jika harga karet dunia naik, maka diharapkan harga karet petani juga bisa naik,” pungkas Kasdi. YIN