Suzuki
14 December, 2018

Turunnya harga TBS di tingkat petani harus disikapi oleh BPDPKS. Caranya dengan memberikan danatalangan seperti pada petani tebu. “BPDPKS bisa lansung melakukan intervensi dengan caramengelontorkan dana talangan sehingga petani masih mendapat keuntungan,” kata Gamal Nasir,Ketua Dewan Pembina Asosiasi Petani Kelapa Sawit PIR (ASPEK-PIR).

Dengan dana yang terhimpun Rp20 triliun, harus segera digunakan untuk menolong petani yangsedang terpuruk. Dengan cara ini petani terbantu sebab upaya pemberian subsidi biodiesel sudahterbukti tidak mampu naikkan harga.

Agus Pakpahan, Ketua Badan Eksekutif Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia(Gapperindo) menyatakan khusus petani tebu peserta dana talangan, pada periode 2002-2010pendapatannya terjamin atau terbebas dari kerugian akibat harga gula turun. Kerugian akibatturunnya harga dipikul oleh mitra petani (penyandang dana talangan). Sekarang tidak ada lagi.

“Kalau di sawit memang belum pernah ada. Sekarang harga sawit sedang jatuh. Apakah konglomeratsawit akan turun membantu petani sawit ? ,” katanya.

Perhitungan Agus Pakpahan apabila diasumsikan ada kebun sawit petani 5 juta ha, produksi 15 tonTBS/ha, dan harga TBS petani/kg =Rp 1000/kg. Maka total dana yg diperlukan: Rp6,250,000,000,000. Apabila harga pasar = Rp 500/kg, maka Dana Talangan tinggal Rp3,125,000,000,000/bulan.

Asumsikan nilai CPO Rp 1000/kg dan rendemen 20% maka didapat nilai CPO petani = 5.000.000 ha x15 ton/ha x 0.2 x Rp 1000/kg = Rp 15.000.000.,000000. Selisih harga CPO dan biaya talangan = Rp 15T – Rp 3.12 = Rp 11.88 T/tahun. Didalamnya ada biaya olah dan lain-lain tetapi masih cukup besar.

Formula pada petani tebu adalah Pt = a + b (Hl – a) di mana: Pt = harga gula yg diterima petani; a =besar talangan = BEP + 10% margin, b = proporsi bagi hasil pemasaran biasanya 0.6 sd 0.8; Hl = hargalelang gula. Faktor a dan b hasil perundingan antara asosiasi petani tebu dengan penyandang danatalangan ditengahi wakil pemerintah; BEP dihitung oleh 3 universitas + P3GI; Hl hasil prosesmekanisme pasar.

Fakta mendasar dalam model di atas adalah petani menghasilkan gula (= cpo), bukan tebu (= TBS).Pemerintah tidak menanggung beban dana. Dana dengan sendirinya hasil yang digenerate langsungdalam sistem yg dibangun. Petani minimal mendapatkan harga = BEP + 10 % yg dihitung oleh 3 univ(IPB, UGM, Unibraw) dan P3Gi untuk kasus gula. Jadi sangat transparan.

Di bawah BEP, kerugian petani ditanggung penyandang dana talangan. Selisih lelang dgn BEPsebagian lagi dibagikan kpd petani sesuai nilai b. Misal margin Rp 100, b = 0.6, maka petani kebagianRp 60/kg gula (cpo). Model ini menghasilkan peningkatan produksi gula dari 1.49 juta ton pada 1999menjadi 2.6 juta ton pada 2008; tanpa model tsb produksi gula turun menjadi 2.1 juta ton sekarangdengan kecenderungan menurun lagi.

“Siapa tahu pengalaman di gula ini bermanfaat bagi sawit atau komoditas lainnya yg memangmenurut Bank Dunia tren harganya akan terus menurun. Solusi pada gula sudah membuktikanselama 6 tahun berturut turut ternyata win-win petani-pengusaha solusi efektif dan efisien sertaberkeadilan,” katanya.

Di US ada US Soybean Growers Association atau Soybeans Farmers Association. Ada juga USSoybeans Association. Keduanya bekerjasama dalam promosi ekspor, R&D dan edukasi denganmengumpulkan dana checkoff. Tampak petani dan korporasi bekerja sama dengan baik dalammenghadapi pasar dunia yg mana tren harga cenderung menurun. Apakah Indonesia mungkinmengembangkan sistem kerjasama seperti di sana tetapi harus dicari bagaimana caranya. (H)