Suzuki
22 February, 2019

Sukabumi – Kementerian Pertanian optimis untuk bisa merealisasikan biodiesel 100 persen (B 100) yang berbahan baku dari kelapa sawit. Artinya untuk merealisasikan B 100 bukanlah mimpi.

“Impian Indonesia ciptakan biodisel terwujud, dari CPO (Crude Palm Oil -red) menjadi B 100. Harapan Bapak Presiden, Kementan yang pertama wujudkan. Ini bahan bakar 100 persen CPO. Bioful yang 100 persen dari CPO, dengan rendemennya 87 persen. Semua tidak ada campuran,” ucap Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian saat meninjau Balai Penilitian Tanaman Industri Penyegar, Badan Litbang Pertanian Kementan.

Lebih lanjut, Amran menjelaskan bahan bakar B100 ini memiliki keunggulan yakni lebih efisien 40 persen dibanding bahan bakar fosil. Faktanya dengan menggunakan bahan bakar fosil sepert solar, 1 liternya hanya dapat menempuh jarak 9,4 kilometer. Sedangkan dengan menggunakan B 100 dapat menempuh jarak 13 kilometer per liter.

Selain itu, penggunaan B 100 pun lebih murah, ramah lingkungan dan dapat mensejahterakan petani sawit serta dengan menggunakan B 100 dapat menghemat devisa. Karenanya, adanya B 100 ini dipastikan dapat memperkuat negeri tercinta.

“Kita punya CPO 38 juta ton. Kita ekspor 34 juta ton. Bisa bayangkan kita bisa menghemat berapa triliun. Ini adalah energi masa depan Indonesia,” terang Amran.

Ke depan, lanjut Amran, B 100 ini akan diproduksi untuk digunakan masyarakat umum. Namun demikian, hal ini membutuhkan waktu dan kerja keras dan bersama semua pihak.

“Kita optimalkan CPO. Produksi CPO kita 46 juta per tahun. Kita yang mensuplay dunia. Kita ekspor 34 juta,” tutur Amran.

Sementara itu, Prof. Dr Dibyo Pranowo, Peneliti Utama Bidang Ekofisiologi Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar Kementerian Pertanian, menambahkan dari seluruh analisis, hanya satu determinan yang perlu di kaji kembali, yaitu karbon residu yang dihasilkan dari B 100 CPO Sawit. Sedangkan 19 determinan lainnya sudah lolos uji.

“Sampai sekarang ini sudah memproduksi hampir 2 Ton dengan menggunakan Reaktor Biodiesel ciptaan sendiri. Produksi ini merupakan penyempurnaan parameter dengan metode Dry Oil,” jelas Dibyo.

Bahkan, menurut Dibyo, dalam 1 bulan ini, percobaan telah dilakukan dengan pengaplikasian B100 CPO Sawit untuk bahan bakar kendaraan. Kendaraan yang dipergunakan adalah Hilux.

Terbukti, kendaraan Double Cabin yang sudah menempuh jarak 1.600 km menggunakan bahan bakar B 100 CPO Sawit. Tidak lama lagi, setelah 2.000 km akan membongkar mesin kendaraan tersebut untuk meneliti karbon residu yang ditimbulkan.

“Ada beberapa bahan Biodisel, misalkan dari kemiri sunan, nyampulung, pongamia, kelapa, kemiri sayur, termasuk dari biji karet,” kata Dibyo.

Lebih dari itu, Dibyo menjelaskan penggunaan CPO Sawit merupakan yang terbaik sampai saat ini. Pasalnya, di lihat dari skala jumlah industri sawit yang sudah siap dan juga pasokan yang melimpah.

“Teknologi B 100 menjadi teknologi bahan bakar terbaru yang akan menjadi alternatif untuk Indonesia di masa depan. Pemerintah berusaha mendorong hal ini melalui Kementerian Pertanian,” pungkas Dibyo. YIN