7 October, 2019

BOGOR, PERKEBUNANNEWS – Suka tidak suka perubahan iklim akan terjadi dan itu mempengaruhi pertanian dan bukan hanya tanaman pangan tapi juga perkebunan dan hortikultura.

“Sektor Pertanian sangat rentan terhadap keragaman perubahan iklim, tidak hanya tanaman pangan, tetapi juga perkebunan, hortikultura dan sub-sektor lainnya,” tutur Direktur Jenderal Perkebunan Kasdi Subagyono.

Kasdi yang juga merupakan mantan Ketua Umum Perhimpunan Meteorologi Pertanian (Perhimpi) menyampaikan, bahwa perubahan iklim dan iklim ekstrim sebagai salah satu bentuk keragaman iklim yang dapat mengancam ketersediaan pangan, energi dan sumber lainnya, sehingga perlindungan dari gangguan iklim tidak hanya menjadi kepentingan nasional, tetapi juga menjadi komitmen global.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Perhimpi, Haris Sjahbudin yang juga Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) menuturkan hingga sekarang sudah banyak contoh aksi iklim yang dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) untuk melindungi petani dan pertanian dari dampak perubahan iklim.

“Membangun dan memperbaiki jaringan tersier, membangun embung, longstorage. Bahkan Badan Litbang Pertanian dikerahkan untuk bisa mengembangkan varietas unggul baru yang adaptif terhadap perubahan iklim (tahan kekeringan, toleran terhadap OPT) dan lainnya,” tutur Haris.

Termasuk mempersiapkan petani millenial untuk mulai memiliki pola pikir pertanian 4.0 melalui smart farming. “Dengan memanfaatkan sistem informasi, digital dan lain sebagainya,” tambah Haris.

Dalam skala besar, pola-pola pertanian seperti tumpangsari, pengelolaan lahan rawa hingga pengelolaan dan budidaya lahan kering. “Itulah pola-pola adaptasi untuk melindungi pertanian dari perubahan iklim,” pungkas Haris. YIN