1 November, 2019

Asosiasi Petani Kelapa Sawit PIR Indonesia (ASPEKPIR) menyambut baik pidato Wakil Presiden yang menyatakan target replanting 180.000 ha tahun ini harus dicapai. “Bagi petani PIR, pelaksanaan PSR sangat mungkin dilakukan. Jangankan 180.000/tahun 300.000 ha saja kami siap,” kata Setiono, Ketua Umum ASPEKPIR Indonesia.

Kendala bagi petani PIR adalah banyak yang enggan ikut PSR karena meskipun umurnya sudah diatas 25 tahun tetapi produktivitasnya masih tinggi. Perlu sosialisasi yang gencar dan KUD-KUD plasma rata-rata aktif mensosialisasikan. Kalau dari sisi persyaratan, petani PIR sudah siap dan sama sekali tidak ada kendala.

ASPEK PIR juga sepakat dengan pidato Deputi Menko Perekonomian bahwa ISPO tidak akan diwajibkan bagi petani dalam 1-2 tahun tetapi perlu perbalajaran dan bantuan bagi petani selama 5 tahun sampai siap sertifikasi ISPO.

“Pemerintah harus serius membina petani supaya siap ISPO. Bagi petani PIR sendiri karena sudah lama dibina perusahaan inti relatif tidak butuh waktu lama untuk bisa bersertifikat. Kalau mau diwajibkan silakan saja asal dibina supaya petani jangan menjadi korban terlalu lama,” katanya.

ASPEKPIR juga ikut IPOC yang ke lima belas di Bali dan meyayangkan tidak ada topik yang dibawakan oleh petani untuk menyuarakan kepentingan petani. “Penggunaan bahasa Inggris juga jadi kendala tersendiri. Bagaimana mau berdaulat bahasa saja tidak berdaulat,” katanya.

Kemitraan juga tidak dibahas mungkin karena sekarang perusahaan tidak lagi memikirkan plasmanya, padahal pemerintah sangat mendorong perusahaan bermitra dengan petani dengan petani swadaya. Petani plasma merasakan saat ini perhatian dari inti sudah jauh berkurang.

“Kami akan mengadakan acara khusus untuk petani dengan nama Indonesia Palm Oil Smallholder Conference di Pontianak. Asosiasi Petani Kelapa Sawit PIR, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia, Sawit Masa Depanku dan Serikat Petani Kelapa Sawit akan sama –sama memperjuangkan kepentingan petani,” katanya.