Suzuki
16 July, 2019

Perkembangan dan ketahanan ekonomi masyarakat Kalteng saat ini relatif baik karena sawit. “Pemasaran buah petani swadaya ke PKS kami koordinir lewat kelompok tani dan koperasi. Mereka melakukan perjanjian kerjasama dengan PKS. Saat ini harga di pabrik antara Rp1150-1210/kg, relatif lebih bagus dan tidak menyakitkan dibanding daerah lain,” kata J.M.T Pandiangan, Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Kalimantan Tengah pada Perkebunannews.com.

Di Kalteng pengumpul hanya mengambil keuntungan Rp5/kg dan itu bagi petani sangat wajar sekali. Perbedaan harga antar PKS berkisar Rp1-80/kg tergantung lokasi pabrik. Petani tidak terlalu kesulitan membawa TBS ke PKS karena bisnis angkutan TBS sudah berkembang.

“Begitu TBS masuk ke pabrik beberapa jam kemudian hari itu juga petani sudah langsung menerima pembayaran. Hal ini dibantu dengan ATM yang sudah banyak tersebar di pedalaman Kalteng,” katanya.

TBS petani yang masuk ke pabrik langsung kena pajak yang dibayarkan oleh PKS. Jadi petani secara nyata memberikan kontribusi pajak langsung pada negara. Di Indonesia mungkin hanya petani sawit yang rutin membayar pajak, petani lainnya belum tentu. “Selain memberi kontribusi pada devisa, kita juga berkontribusi langsung lewat pajak. Jadi kebijakan salah sekali kalau petani sawit tidak mendapat subsidi pupuk,” katanya.

Kelapa sawit merupakan komoditas pertanian yang sangat menguntungkan meskipun sekarang ada masalah penurunan harga. Bandingkan dengan komoditas perkebunan lain seperti karet di Kalteng misalnya, kondisinya jauh berbeda.
Untuk sawit pengumpul dan PKS banyak, sedang pada karet terbatas. Pabrik karet hanya ada satu di Kalteng, itu juga masih baru. Sebagian besar getah karet dibawa ke pabrik di Banjarmasin. Pada kelapa sawit dinamika pertumbuhan ekonomi masyarakat sangat terukur sekali.