24 September, 2019

PALEMBANG, Perkebunannews.com – Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) cabang Sumatera Selatan (Sumsel) Sumarjono Saragih merasa prihatin atas bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Untuk itu semua pihak tidak saling tuduh tanpa fakta sehingga merugikan.

“Mari kita tidak saling tuduh tanpa fakta. Sangat merugikan dan bukan solusi. Pengusaha dan buruh yang ada di wilayah karhutla adalah korban utama dan pertama. Bukan biang pembakaran lahan dan hutan,” ujar Sumarjono di Palembang, Sumsel, Senin (23/9).

Menurut Sumarjono, api bisa datang dari mana saja. “Kami justru korban. Korban tuduhan dan ancaman hukum. Jika ada pengusaha yang sengaja membakar lahan itu namanya bodoh, bahkan sama saja gantung diri,” katanya dalam konferensi pers bersama Apindo dan Serikat Buruh Sumsel.

Menurut Sumarjono, ancaman undang-undang sangat jelas. Bahkan ada tanggungjawab mutlak. Tidak peduli dari mana asal api. Asal api ditemukan di dalam konsesi tanggungjawab langsung pengusaha.

Justru, lanjut Sumarjono, pengusaha berjuang keras jangan sampai api ada di lahan dengan menyiapkan paralatan, patroli 24 jam, melatih regu pemadam, membentuk masyarakat peduli api.

Mengutip data Global Forest Watch, Sumarjono mengatakan, titik api di dalam konsesi perusahaan hanya 10 persen. Selebihnya 90 persen justru di lahan semak belukar, tak bertuan, atau lahan dalam otoritas negara. “Artinya pejagaan dan antisipasi api oleh pengusaha dan para buruhnya, sangat efektif mengurangi resiko kebakaran,” ujarnya.

Justru, menurut Sumarjono, lahan dan hutan tak bertuan atau milik negara menjadi sumber api paling besar. “Apakah pemerintah dan masyarakat sudah melakukan upaya antisipasi sebagaimana dilakukan pengusaha dan buruh?,” timpal Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia cabang Sumsel Abdullah Anang. (YR)