Suzuki
28 November, 2018

MEDAN, Perkebunannews.com – Indonesia merupakan negara pemasok 90 persen kebutuhan minyak nilam di dunia. Dari 70 jenis minyak atsiri yang beredar di pasaran dunia, 40 jenis tanaman yang menghasilkan minyak atsiri terdapat di Indonesia. Namun dari jumlah itu baru sebagian yang digunakan sebagai sumber minyak atsiri secara komersial di antaranya berasal dari komoditas perkebunan, yakni nilam dan sereh wangi.

Hal tersebut dikatakan Menteri Pertanian dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Kepala Subdit Tanaman Serat dan Atsiri, Direktorat Tanaman Semusim dan Rempah, Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, Iswanto, pada Konferensi Nasional Minyak Atsiri (KNMA) 2018 di Medan, Senin (26/11).

Menteri Pertanian (Mentan) menyebutkan, pasokan minyak nilam di Indonesia berasal dari Sulawesi (80 persen), Sumatera (16 persen), dan Jawa (3 persen). Beberapa jenis minyak nilam yang banyak dikembangkan di Indonesia di antaranya varietas tapak tuan, sidikalang, Lhoksumawe, dan Pachoulline 1 dan 2 yang dikembangkan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro).

Sebagai tanaman semusim, lanjut Mentan, luas areal nilam sangat berfluktuatif karena perkembangannya sering mengalami perubahan. Berdasarkan data statistik Perkebunan, luas areal nilam pada 2017 sebesar 18.841 hektar dengan produksi 2115 ton minyak nilam.

Menurut Mentan, dari berbagai jenis minyak atsiri, minyak nilam menjadi primadona di Indonesia. Beberapa negara pengimpor minyak nilai adalah Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Swis, Jerman, Belanda, Hongkong, Mesir dan Arab Saudi.

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Atsiri Indonesia (DAI), Robby J Gunawan, mengatakan, ekspor minyak atsiri dari Indonesia dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan. Hal ini seiring kebutuhan minyak atsiri yang naik.

Robby menyebutkan, nilai ekspor minyak atsiri Indonesia mencapai USD 300 juta per tahun. Ekspor tersebut dilakukan 50 eksportir yang secara rutin dan aktif mengekspornya ke berbagai pasar dunia.

Menurut Robby, peluang ke depan akan semakin terbuka lebar seiring dengan terus berkembangnya kebutuhan dunia terhadap minyak atsiri. Apalagi kebutuhan produk turunan hilir pengguna minyak atsiri di dalam negeri juga berkembang pesat. Hal itu tentu saja berimbas pada gairah petani untuk mengembangkan tanaman yang menghasilkan minyak atsiri.

Robby mengakui fluktuasi harga komoditas termasuk minyak atsiri bisa terjadi. Seluruh pelaku minyak atsiri harus sadar bahwa fluktuasi harga bisa ditekan jika rantai pasoknya efisien. Jika rantai pasok terlalu panjang karena banyak perantara, yang dirugikan yang di hulu, yakni petani.

Minyak atsiri memiliki berbagai macam manfaat, di antaranya sebagai wewangian (pada kosmetik, produk perawatan tubuh), minyak aroma terapi, minyak gosok (untuk masuk angin, penghangat badan, karminatif), pengharum ruangan, dan penolak serangga.

Dalam KNMA 2018 bertema ”Pengembangan Komoditas Unggulan Atsiri Indonesia Yang Bernilai Tambah Tinggi”, dilakukan juga pelantikan dewan pengurus DAI Cabang Sumatera Utara (Sumut), dan Ikatan Peneliti Minyak Atsiri Indonesia diketuai Anton Apriantono.

Medan dipilih sebagai lokasi KNMA 2018 karena wilayah Sumut sebagai penghasil minyak atsiri seperti Nilam, Cengkeh, Sereh Wangi, Kemenyan, Jahe, Pala dan jenis lainnya. Semuanya kebanyakan dikelola petani dan industri kecil penyulingan di berbagai kabupaten yang mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi. (YR)