Suzuki
April 8, 2018

Dari potensi yang ada, jika semua pihak memberi perhatian penuh pada sub sektor perkebunan mestinya mampu menghasilkan sebanyak Rp 1.000 triliun. Dalam kondisi yang belum terurus secara maksimal saja, 15 komoditas perkebunan menghasilkan devisa sekitar Rp 471,3 trilium pada 2017.

Dari segi ekspor, perkebunan menjadi pemimpin ekspor. Pada 2017, dari 33,5 miliar USD ekspor pada lingkup Kementerian Pertanian, 31,5 miliar USD berasal dari komoditas perkebunan. “Hasil ini jauh mengungguli ekspor minyak dan gas,” tandas Direktur Jenderal Perkebunan, Kementan, Bambang, pada acara Sosialisasi Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) 2018 di Pontianak, Jumat (6/4).

Bambang mengatakan, bangsa Indonesia belum penuh memberikan perhatian pada perkebunan. Setiap tahun terjadi kehilangan sekitar Rp 600 triliun. Hal ini karena petani maupun pelaku usaha belum maksimal meningkatkan produktivitasnya.

Ada yang salah di negeri ini. Karena masing-masing daerah rendah dalam memberi perhatian pada perkebunan setelah diberlakukan Undang-undang Pemerintahan Daerah. “Hanya beberapa daerah yang masih memberikan perhatian pada perkebunan dengan mempertahankan SKPD perkebunan,” ujar Bambang.

Menurut Bambang, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memberi perhatian pada perkebunan. “Padahal dalam kondisi yang belum terurus saja, perkebunan sudah memberi kontribusi ekspor terbesar,” tukasnya.

Bambang menyebutkan, dari 1,5 juta hektar (Ha) kelapa sawit di Kalimantan Barat 443 ribu Ha milik petani. Dari jumlah itu, 49 ribu Ha yang perlu diremajakan. “Tahun ini ditargetkan 19 ribu hektar diremajakan. Tapi usulan yang masuk baru 1.500 hektar. Artinya progresnya masih jauh dari target,” ungapnya.

Untuk itu, Bambang menekankan agar Pemda Kalbar agar lebih serius dengan program PSR tahun ini. Jika Kalbar terlambat untuk menyiapkannya maka peluang itu akan diberikan kepada daerah lain yang lebih siap. (YR)