Suzuki
September 20, 2018

JAKARTA – Director of Council of Palm Oil Producer Countries (CPOPC), Mahendra Siregar mengatakan, saat ini Pemerintah Indonesia telah mengambil posisi yang tegas dalam mengambil langkah-langkah tegas untuk memastikan industri sawit tidak mendapatkan diskriminasi dari pasar internasional.

Menurut Mahendra, kelapa sawit adalah minyak nabati yang paling memenuhi ekspekatasi kriteria Sustainabililty Development Goals (SDGs) jika dibandingkan minyak nabati lainnya. “Tanpa kelapa sawit akan sangat sulit melakukan pencapaian SDGs dan hal ini bukan hanya untuk Indonesia namun juga untuk seluruh dunia,” ujarnya kepada pers di Jakarta, Eabu (19/9).

Sementara itu Agus Purnomo, Managing Director Sustainability and Strategic Stakeholders Engagement Sinar Mas Agribusiness and Food menjelaskan bahwa perusahaan telah melakukan berbagai upaya dalam menerapkan praktek industri sawit yang berkelanjutan yang sejalan dengan tujuan-tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).

Agus menambahkan bahwa salah satu capaian SDGs perusahaan adalah dalam hal penguatan kemitraan untuk pembangunan berkelanjutan (partnership for the goals). “Melalui kegiatan seperti SMART SEED, program kunjungan dan lokakarya, kami mengajak para pemasok untuk bermitra dan bersama-sama menerapkan praktek berkelanjutan di industri kelapa sawit,” jelasnya.

“Setelah mencapai 100 persen kemampun telusuran untuk pabrik minyak kelapa sawit milik Perusahaan, kami masih memiliki pekerjaan besar. Kami menargetkan untuk mencapai 100 persen kemampu telusuran sumber bahan baku pabrik minyak kelapa sawit pihak ketiga pada tahun 2020,” ungkap Agus.

Sedangkan Lin Che Wei, Staff ahli Menko Perekonomian menjelaskan bahwa adanya rencana Uni Eropa untuk phasing out biofuel berbasis kelapa sawit pada tahun 2021 adalah berdasarkan alasan-alasan sosial dan lingkungan utamanya kerusakan hutan. Keputusan Uni Eropa ini tidak datang tiba-tiba. Sudah sejak lama tekanan terhadap impor minyak sawit mendapat tekanan besar, utamanya dengan alasan-alasan lingkungan.

“Saat ini, di bawah kepemimpinan Kemenko Perekonomian, sebuah upaya sedang dilakukan untuk membuat ISPO lebih banyak digunakan dan mendapatkan pengakuan internasional. Dengan adanya sertifikasi keberlanjutan yang diakui dunia, pembedaan sawit baik dari sawit yang kurang baik dapat dilakukan dengan mudah. Konsumen dan pembeli minyak sawit di seluruh dunia juga dapat menentukan kebijakannya untuk hanya membeli minyak sawit yang baik,” kata Lin Che Wei.

Ong Hock Chuan, praktisi komunikasi dari Maverick menjelaskan tentang pentingnya menyampaikan dan menyiarkan hal-hal positif tentang industri kelapa sawit. Apalagi sebagai komoditas strategis nasional, kelapa sawit harus dapat diterima oleh banyak kalangan di ranah internasional.

“Para pemangku kepentingan industri kelapa sawit jangan mau terjebak di masalah yang telah lalu. Jika masalah di masa lalu telah ditangani sesuai dengan standar dan peraturan yang berlaku, sampaikanlah pada masyarakat. Setelah itu, jangan segan mempromosikan kebaikan-kebaikan yang diciptakan oleh perusahaan karena dunia perlu tahu potensi sesungguhnya dari kelapa sawit,” jelas Ong.

Sinar Mas Agribusiness and Food menggelar forum diskusi SMART SEED (Social and Environmental Excellent Development) yang keempat di Jakarta, Rabu (19/9). SMART SEED bertujuan untuk mengajak para pemasok independen berdiskusi dan berbagi pengetahuan mengenai praktek perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan.

Untuk tahun ini, forum diskusi tahunan SMART SEED mengambil tema “Mempromosikan Industri Sawit yang Berkelanjutan dalam Upaya Mempercepat Pencapaian Sustainability Development Goals (SDGs)”. Sinar Mas Agribusiness and Food mengajak para pemasok untuk membangun citra positif industri sawit yang berkelanjutan dengan membagikan dan menceritakan kontribusi para permasok dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). (YR)