Suzuki
16 October, 2018

Memang dahulu Indonesia pernah meledakan vanili dikancah dunia. pada tahun 2007. Namun, harga yang tak pasti dan kualitas vanili yang tak seragam membuat posisi itu kini tergeser. Ini karena tanaman tanaman tersebut sensitif dan butuh penanganan ekstra, atas dasar itulah Forum Vanili Indonesia (DEVINA) siap kembali meledakannya.

H.M Zabidi Ketua DEVINA optimis bahwa vanili di Indonesia kembali meledak atau kembali berada diposisi wahid ditingkat dunia. DEVINA optimis untuk membangkitkan kejayaan vanili Indonesia dengan cara baru. Salah satunya dengan mengembangkan agribisanis vanili organik.

“Jadi step by step (selangkah demi selangkah) kita akan akan mengarahkan ke tanaman organik baru, begitu juga dengan tanaman yang sudah ada akan kita arahkan secara bertahap ke tanaman organik,” jelas Zabidi.

Sebab, Zabidi pun mengakui, bahwa selama vanili organik sudah berjalan tapi memang masih secara sporadis. Padahal jika dilihat dari segi harga, vanili organik masih mempunyai harga yang cukup tinggi ditengah-tengah merosotnya harga vanili.

Meski begitu saat 3 tahun belakangan ini harga vanili mulai kembali merangkak naik, baik yang organik atapun yang non organi. Meski begitu harga vanili organik masih diatas haraga vanili non organik.

“Melihat hal tersebut maka kita secara bertahap akan mengorganikan tanaman vanili. Ini karena harga vanili organik jauh lebih stabil jika dibandingkan vanili yang non organik,” jelas Zabidi.

Terbukti, berdasarkan catatan Zabidi, harga vanili organik jauh lebih tinggi sekitar 25-30 persen dibandingkan dengan vanili non organik. Bahkan harga vanili basah saat ini bisa mencapai antara Rp 300-500 ribu per kilogram. Sedangkan untuk vanili kering berkisar antara Rp 3-5 juta per kilogram.

Artinya jika setiap petani bisa melakukan pasca panen yang baik bukan tidak mungkin keuntungan untuk para petani bisa jauh lebih tinggi lagi.

“Apalgi jika vanili yang dibudidayakan menggunakan pola budidaya organik. Sebab harga ditingkat pasar harga vanili organic jauh lebih tinggi sebesar 25-30 persen dari harga vanili biasa,” terang Zabidi.

Namun, Zabidi mengakui untuk mengedukasi petani atau pembudidaya tanaman vanili untuk mengarah ke organik tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Untuk itu, DEVINA terus melakukan edukasi kepada petani-petani untuk melakukan budidaya vanili organik.

Tidak hanya itu, devina juga melakukan pelatihan-pelatihan agar petani bisa melakukan pemanenan atau pasca panen yang baik dan benar sesuai dengan good agriculture practices (GAP). “Ini dilakukan agar petani mendapatkan nilai tambah atau harga jual yang lebih tinggi dan stabil, karena telah melakukan budidaya secara organik serta secara GAP,” harap Zabidi. YIN