Suzuki
August 9, 2018

ASPEK PIR (Asosiasi Petani Kelapa Sawit PIR) dari dulu sama sekali tidak ingin petani plasma berpisah dari mitra perusahaan intinya. Perjuangan ke depan adalah bagaimana menjaga kemitraan yang saling menguntungkan antara petani plasma dan perusahaan inti. Setiono, Ketua Umum ASPEK PIR menyatakan hal ini.

“Sekarang petani swadaya di dorong oleh pemerintah untuk melakukan kemitraan. Jadi bagaimana mungkin kami yang sejak awal berbudidaya kelapa sawit sudah bermitra dan menjadi sejahtera malah mau lepas dari mitranya,” katanya.

Sejak awal petani plama sudah mendapat perlakukan khusus misalnya Permentan yang mengatur harga TBS sebenarnya berlaku untuk petani plasma, meskipun yang terbaru sudah diubah menjadi pekebun. Petani yang sudah dibina dengan menggunakan bibit unggul yang legal, budidaya sesuai GAP, diuntungkan dengan Permentan ini sebab mampu memenuhi persyaratan mutu TBS dalam lampiran Permentan.

Salah satu keuntungan menjadi petani PIR adalah tidak terlalu mengalami gejolak harga seperti yang dialami petani swadaya. “Akhir-akhir ini harga CPO turun dan imbasnya adalah turunnya harga TBS. Harga TBS kami yang dijual ke inti memang turun tetapi tidak sedrastis yang dialami petani swadaya,” kata Setiono.

Petani plasma rata-rata menerima harga TBS sesuai dengan penetapan harga tingkat provinsi mengikuti Permentan nomor 1 tahun 2018. Potongan yang diterima relatif kecil sekali karena petani plasma sudah menerapkan Good Agricultural Practises sehingga TBS memenuhi semua persyaratan mutu sesuai Permentan. Karena itu petani plasma tidak banyak mengeluh.

Selain itu kelembagaan petani plasma sudah terorganisasi dengan baik. Panen langsung diangkut koperasi ke pabrik, tidak ada pedagang perantara. Jarak kebun juga relatif dekat dengan pabrik sehingga ongkos angkut tidak terlalu tinggi.

Sedang harga TBS petani swadaya sering berada jauh dibawah penetapan harga karena potongannya banyak akibat tidak bisa memenuhi standar mutu Permentan nomor 1/2018. Selain itu mata rantai dari petani ke pabrik cukup panjang mulai dari pedagang pengumpul tingkat desa sampai ke pedagang besar yang mengangkut ke pabrik.

“Karena itu kami tetap ingin menjalin kemitraan dengan inti. Kami sejahtera karena bermitra mana mungkin kami ingin berpisah,” katanya.