Panasnya AS dan Tiongkok Memukul Minyak Nabati

Hubungan dagang Amerika Serikat (AS) dan China semakin panas, Amerika telah mulai menerapkan tarif pajak tinggi kepada barang dari China dan Negeri Tirai Bambu tidak tinggal diam. Retaliasi pun dibalas secara proporsional dengan mengurangi pembelian kedelai dari AS.

Eskalasi perselisihan dagang kedua negara Adi Kuasa ini mulai berpengaruh pada minyak nabati lainnya yang merupakan salah satu komoditi perdagangan kedua negara tersebut. Dengan pengurangan pembelian kedelai oleh China menyebabkan stok kedelai di AS melimpah.

“Di sisi lain China telah mempersiapkan diri dengan munumpuk stok di dalam negeri jauh hari sebelum perselisihan dagang dimulai. Melimpahnya stok kedelai AS dan permintaan pasar global yang lemah hargapun mulai jatuh,” Mukti Sardjono Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).

Pada saat yang sama, lanjut Mukti, stok minyak nabati lain seperti rapeseed, bunga matahari dan minyak sawit juga cukup melimpah di negara produsen. Akibatnya harga minyak nabati menurun karena hukum ekonomi mulai berlaku, ketersediaan barang melimpah, permintaan sedikit, maka harga murah.

Berdasarkan catatan GAPKI, sepanjang Mei 2018, volume ekspor minyak sawit secara total termasuk biodiesel dan oleochemical membukukan penurunan sebesar 3% atau dari 2,39 juta ton di April susut menjadi 2,33 juta ton pada Mei.

Khusus volume ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan turunannya tidak termasuk biodiesel dan oleochemical pada Mei 2018 tercatat menurun 4% dibandingkan dengan April lalu atau dari 2,22 juta ton di April merosot menjadi 2,14 juta ton di Mei.

“Penurunan ekspor dipengaruhi stok minyak nabati lain yang melimpah di pasar global sehingga harga yang murah juga tidak mendongkrak permintaan,” tutur Mukti.

Pada Mei ini, Mukti menambahkan, volume ekspor CPO dan turunannya ke Pakistan meningkat 29%. Peningkatan impor yang cukup signifikan setelah selama 3 bulan terakhir stagnan. Naiknya volume ekspor di Pakistan karena harga minyak sawit yang sedang murah sehingga para traders memanfaatkan kesempatan untuk menggendutkan stok minyak sawitnya.

Pada sisi lain, turunnya harga tidak mampu menarik pembeli dari India untuk menimbun stok minyak sawit. Sejak tarif bea masuk yang tinggi untuk minyak sawit permintaan India mengalami kelesuan dan sudah pada tahap akut. Pada Mei ini, India mencatatkan penurunan impor CPO dan turunannya sebesar 31% atau 346,28 ribu ton turun merosot menjadi 240,16 ribu ton.

“Terbukti, pasar India yang sudah tergerus lebih dari 50% dari sejak awal tahun yang juga turut berkontribusi menyebabkan stock minyak sawit di Indonesia dan Malaysia menjadi tinggi karena susutnya pembelian yang sangat signifikan,” ucap Mukti.

Beralih ke negara Benua Biru, menurut Mukti, ekspor ke Uni Eropa sudah dipastikan menurun karena melimpahnya produksi minyak bunga matahari dan rapeseed. Sepanjang Mei Uni Eropa membukukan penurunan impor sebesar 7% atau dari 385,10 ribu ton di April menyusut menjadi 359,31 ribu ton di Mei.

Membaca situasi pasar yang semakin tidak menentu, dengan semakin memanasnya perselisihan dagang AS dan China, pemerintah Indonesia diharapkan mulai memberikan perhatian khusus kepada industri minyak sawit untuk menjaga agar harga minyak sawit tidak terus merosot.

“Pemerintah sebisa mungkin sudah perlu membuat kebijakan untuk meningkatkan konsumsi di dalam negeri dengan menggalakan penggunaan biodiesel yang lebih banyak, mandatori Biodiesel sudah waktunya diterapkan kepada non-PSO untuk mendongkrak konsumsi di dalam negeri. Jika konsumsi di dalam negeri tinggi maka stok akan terjaga sehingga harga di pasar global tidak anjlok karena stok yang melimpah,” papar Mukti.

Hal lain yang dapat dilakukan, Mukti mengatakan adalah mulai menjajagi pasar Afrika yang masih memiliki potensi besar akan tetapi infrastruktur masih minim. Pemerintah dapat membuat kebijakan seperti menurunkan tarif ekspor minyak goreng kemasan ke negera Afrika. Afrika tidak dapat membeli minyak dalam bentuk curah yang harganya lebih murah daripada kemasan karena tidak memiliki infrastruktur tangki timbun.

“Dari sisi produksi, pada Mei ini produksi mencapai 4,24 juta ton atau naik 14% dibandingkan pada April lalu yang hanya mampu mencapai 3,72 juta ton. Produksi bulan mei yang juga ini mengerek stok minyak sawit Indonesia meningkat menjadi 4,76 juta ton dibanding pada bulan lalu di 3,98 juta ton,” terang Mukti.

Dari sisi harga, Munkti menjabarkan, sepanjang bulan Mei harga CPO global bergerak di kisaran US$ 650 – US$ 670 per metrik ton dengan harga rata-rata US$ 653,6 per metrik ton. “Harga rata-rata Mei menurun US$8,6 dibandingkan harga rata-rata pada April lalu US$ 662,2 per metrik ton. Harga minyak sawit pada bulan mendatang diperkirakan akan cenderung menurun karena stok minyak sawit Indonesia dan Malaysia yang masih tinggi,” pungkas Mukti. YIN

Pin It on Pinterest