Bahan Pangan Tidak Harus Beras

Benar bahwa manusia membutuhkan sumber pangan karbohirat untuk melakukan aktivitas sehari-hari, tapi sumber pangan karbohidrat tidaklah hanya berasal dari beras, tapi bisa juga dari sagu, singkong, ataupun lainnya.

“Program ini sudah lama untuk mengurangi ketergantungan sumber karbohidrat yang namanya beras.
Kemudian dicari bahan (pangan-red) lokal untuk mengganti atau mengurangi ketrgantungan terhadap beras,” kata Kepala Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi kepada perkebunannews.

Adapun bahan pangan pengganti beras, lanjut Agung, diantaranya yaitu sagu, ubi, garut, singkong dan lainnya yang semua itu adalah sumber kabrohidrat lokal. “Tapi, pangan pengganti beras yang bersumber dari karbohidrat lokal itu sendiri tetap harus memperhartikan gizi seimbangi, bergam dan aman,” himbau Agung.

Tidak hanya itu, Agung mengakui, sagu dapat mensubstitusi beras sebagai pangan pokok. Bahkan kandungan yang ada dalam sagu itu sendiri jauh lebih baik karenaSagu mempunyai kandungan karbohidrat yang tinggi atau sebesar 94 persen.

Lalu, sagu itu sendiri baik untuk kesehatan karena bebas glutein dan indeks glikemiksnya rendah yaitu 25 – 30 (lebih rendah dari beras yang umumnya memilikiI G 45 – 70). “Bahkan masyarakat di beberapa daerah pun telah mengkonsumsi sagu sebagai pangan pokok secara turun temurun, seperti di Riau, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Papua,” jelas Agung.

Namun, Agung membenarkan untuk mengubah pola konsumsi masyarakat dari yang terbiasa mengonsumsi beras ke bahan pangan lainnya tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Harus ada gerakan bukan sekedar kampanye.

Kemudian, harus melakukan inovasi dalam melakukan pengolahannya. Seperti sagu yang saat ini sudah bisa diolah menjadi mie intan, beras, biscuit, hingga tepung sagu, yang bisa dibuat menjadi aneka olahan makan seperti cake (kue).

“Artinya kita saat ini sudah mulai masuk ke hilir untuk membuat aneka olahan berbahan sagu, baru tumbuh industri pengolahan sehingga butuh bahan baku yang akhirnya tumbuh perluasan tanaman,” harap Agung.

Meski begitu, Agung optimis, dengan berupahnya ekonomi masyarakat maka akan terjadi peningkatan variasi bahan pangan. Apalagi saat ini tidak sedikit masyarakat yang sudah mulai memasuki pola konsumsi sehat.

“Artinya dengan meningkatnya pendapatan seseorang maka akan menciptakan variasi dalam mengonsumsi makanan,” tutur Agung

Kepala Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi
Kepala Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi

Disisi lain, Agung mengatakan, bahwa budidaya tanaman sagu bisa dilakukan di lahan marjinal, rawa dan pasang surut dimana lahan-lahan tersebut komoditas padi tidak tumbuh dengan baik. Saat ini tanaman sagu banyak tumbuh dan dibudidayakan terutama di Aceh, Riau, Kepulauan Riau, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat dan Papua.

“Jadi lahan yang sesuai untuk sagu adalah tanah berlumpur yang mempunyai pengaruh pasang surut terutama bila air pasang tersebut merupakan air tawar, Kondisi lahan tersebut menyebar di seluruh wilayah Indonesia,” papar Agung.

Melihat fakta-fakta tersebut, Agung memastikan, “sagu sangat berpotensi untuk menjadi bahan pangan berkarbohidrat.” YIN

(Visited 60 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest