PUSLITKOKA MAMPU HASILKAN 60 JUTA BENIH KOPI DAN KAKAO TIAP TAHUN

Kemampuan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) dalam menyediakan benih, baik dalam bentuk biji dan tanaman muda sudah teruji lewat track record yang sudah ada. Bila direncanakan dengan baik mampu memproduksi 30 juta masing-masing benih kopi dan kakao.

“Bahkan dalam satu tahun kita pernah menghasilkan benih kakao 40 juta dan kopi 20 juta. Jadi soal menyediakan benih dalam jumlah besar dalam waktu satu tahun sudah biasa bagi kami. Syaratnya harus direncanakan dengan baik,” kata Misnawi, Direktur Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia kepada Perkebunannews.com
.
Untuk kopi, kalau dalam bentuk biji, kapasitas Puslitkoka bisa 50-60 juta karena tingginya produktivitas kebun benih yang dimiliki. Dari 1 kg benih bisa dihasilkan 30.000 biji. Meskipun demikian kedepan sebaiknya klonisasi yaitu benih yang berasal dari klon unggul yang diperbanyak secara vegetatif harus lebih diutamakan.

Sedang penggunaan biji kakao hibrida harus benar-benar menggunakan kebun induk yang varietasnya turunannya sudah dilepas melalui Peraturan Menteri Pertanian. Saat ini banyak yang tetuanya saja sudah dilepas tetapi turunannya belum. “Dalam benih perkebunan ini kita harus hati-hati karena jangan sampai setelah 4-5 tahun petani kecewa karena varietas yang ditanam tidak sesuai,” katanya.

Bahan tanaman yang ditanam harus menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan. Dengan budidaya intensif secara terus menerus membuat serangan OPT semakin tingggi sehingga bahan tanamannya harus lebih tahan. Hara juga semakin berkurang karena diserap terus sehingga perlu bahan tanaman yang efisien menyerap hara disamping penambahan bahan organik dan mikroba.

Perubahan iklim ekstrim yang kadang-kadang membuat kemarau panjang atau hujan berkepanjangan juga harus diimbangi dengan bahan tanaman yang mampu menyerap air secara efisien pada saat kemarau dan tahan terhadap kelebihan air. “Jenis tanaman harus terus disesuaikan dengan situasi lingkungan,” katanya.

Khusus kopi, Puslitkoka sudah punya kopi super yang punya perakaran lebih banyak dan dalam. Sudah teruji 10-15 tahuh mampu mengatasi kekeringan dan serangan nematoda yang merupakan salah satu OPT utama kopi.

“Bagi kami menyediakan benih 30-40 juta tidak masalah. Selain dari kami sendiri, bisa memanfaatkan mitra lain seperti lembaga penelitian pemerintah penghasil benih, perusahaan penghasil benih dan penangkar benih. Ada koordinasi sehingga masing-masing penghasil benih bersinergi. Sekarang belum bersinergi ,masih bersaing satu dengan yang lain. Untuk itu peran direktorat perbenihan ditjenbun sangat penting untuk mendata dan mensinergikan masing-masing sumber benih,”katanya.

Pin It on Pinterest