Vanili Kembali “Naik Kelas”

Yogyakarta – Tanaman Vanili yang dahulu sempat mengalami kemerosotan tapi sejak 5 tahun belakangan ini tanaman vanili yang masuk kategori tanaman perkebunan kembali naik kelas.

“Jadi memang 5 tahun kebalakangan ini, vanili telah menjadi primadona, ini karena harganya telah menembus diatas Rp 2 juta per kilogram. Bahkan dua bulan yang lalu harganya sempat menembus angka Rp 5 juta per kilogram,” kata Ketua Perkumpulan Petani Vanili Indonesia, Rudy Ginting dalam rangkaian diskusi Hari Perkebunan ke 60 di INSTIPER Yogyakarta.

Lebih lanjut, menurut Rudy, kembali menanjaknya harga vanili yang telah divermentasi karena aromanya harum semerbak paling populer di dunia. Alhasil vanili asal Indonesia yang telah divermentasi selain bisa untuk penyedap aroma kue dan dessert, juga bisa digunakan untuk aroma theraphy.

“Namun memang permintaan vanini ini lebih banyak diekspor, daripada dalam negeri” jelas Rudy.

5 Ttahun belakangan ini tanaman vanili yang masuk kategori tanaman perkebunan kembali naik kelas, dan harganya menembus diatas angka Rp 2 juta per kilogram – Foto: YIN

Disisi lain, Rudy menguki bahwa budidayanya pun tidaklah sulit. Dari mulai dari tanam bibit sampai panen, dibutuhkan waktu 1.5 – 2 tahun. Setelah panen pertama, akan panen lagi setiap tahunnya, dan tanaman ini bisa digunakan untuk tanaman naungan.

Artinya tanaman vanili selain bisa untuk tanaman mono kultur juga bisa untuk tanaman penghasilan tambahan bagi tanaman lainnya. Diantaranya sebagai penaung tanaman cengkeh, pala, dan kopi. Dengan begitu maka petani akan mendapatkan keuntungan yang lebih dari tanaman vanili yang dijadikan sebagai penaungnya.

“Namun disarankan tidak untuk tanaman penaung kakao. Ini karena tenaman kakao banyak penyakitnya,” saran Rudy.

Adapun jenisnya, Rudy menjabarkan, ada dua jenis vanili yang banyak ditanam masyarakat yaitu tahiti dan planifolia. Namun jenis planifolia yang banyak digunakan dan paling mahal harganya bila dibadingkan dengan vanili tahiti.

“Panjang pendeknya buah vanili, sangat mempengaruhi harganya, karena jumlah biji didalam vanili lebih banyak bila bentuknya panjang. Ada empat faktor yang mempengaruhi harga yaitu tua dipohon, besar dan kecil, pengolahan, dan jumlah kadar airnya. Kadar air yang bagus diantara 10-15 persen, namun yang standar dan banyak dicari kadar air 12 persen,” urai Rudy.

Kemudian, lanjut Rudy, untuk proses pengolahan vanili dari mulai petik di pohon, sampai vermentasi untuk dijual ada beberapa tahapan. Pertama yaitu direndm air panas atau mendidih selama 2 – 3 menit. Lalu, dikeringkan atau diangin-anginkan. Setelah itu, vanili dingungkus dalam karung goni dan dimasukan dalam kotak kayu untuk proses vermentasi selama 2 hari, dan ditutup rapat, jangan dibuka.

Setelah itu jemur lagi dan diberi alas kain hitam katun dan ditutup selama 4 jam dalam sehari. Kemudian dimasukkan lagi dalam kotak dengan alas kainnya. Setelah beberapa jam, vanili dibuka kembali dan diurut-urut agar tidak terjadi pengrucutan. “Barulah setelah itu dibungkus rapid an dipasarkan,” pungkas Rudy. YIN

Pin It on Pinterest