Petani Tembakau Ikut Terpukul Kenaikan Cukai

Ada sebab ada akibat, begitulah yang terjadi pada petani tembakau dengan naiknya tarif cukai hasil tembakau pada 1 Januari 2018 dengan besaran rata-rata 10,4 persen.

“Ini akan menjadi multi player effect, naiknya cukai hasil tembakau juga akan berdampak kepada petaninya dalam hal ini petani tembakau,” kata Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Agus Parmudji saat dihubungi perkebunannews.

Pengaruhnya kenaikan cukai kepada petani, Agus menguraikan, yaitu karena akan menurunkan produksi ditingkat industri. Contoh, jika seseorang yang satu hari menghabiskan satu bungkus rokok, maka hanya setengah bungkus. Ini karena naiknya cukai tembakau otomatis akan berpengaruh kepada naiknya harga produk hilir dalam hal ini rokok.

Artinya tidak menutup kemungkin dengan berkurangnya jumlah pembeli maka otomatis industri akan mengurangi produksi, sehingga bahan baku yang berasal dari petani akan juga akan dikurangi. Akibatnya petani akan kehilangan pasar dan ini akan memperbesar impor tembakau yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Sesuai catatannya tahun 2016, produksi rokok sekitar 330 miliyar batang. Sehingga jika 1 batang membutuhkan 1 gram tembakau, maka kebutuhan tembakau sekitar 330 ribu ton. Sedangkan produksi tembakau nasional sebesar 202 ribu ton, maka tidaklah heran jika Badan Pusat Statistik (BPS) merilis impor tembakau tahun 2016 mencapai 91 ribu ton. Dari jumlah ini, kontribusi tembakau China mencapai 47,6 persen. .

“Sangat dikhawatirkan dengan naiknya cukai justru akan memperbesar impor tembakau,” risau Agus.

Melihat hal ini, Agus menyarankan alangkah dana cukai dari rokok yang dikembalikan ke petani diperbesar. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas tembakau untuk kebituhan industri.

Sehingga jika 2 persen dari cukai hasil tembakau yang dikembalikan ke petani, maka dari 2 persen tersebut sebaiknya 50 persennya digunakan untuk peningkatan kualitas dan kuantitas tanaman tembakau.

“Kami berharap dari 2 persen tersebut sebanyak 50 persennya digunakan untuk membenahi budidaya tembakau seperti pemupukan, dan pembinaan petani sehingga produksi dan kualitasnya meningkat sesuai keingan industri,” harap Agus.

Selain budidaya, Agus menghimbau agar sebaiknya pemerintah membatasi importasi tembakau. Sebab jika importasi tidak dibatasi maka akan mengganggu petani tembakau didalam negeri. Adapun caranya yaitu dengan menaikan bea impor yang dikenakan baru 5 persen. Sebab selama ini kran impor tembakau masih terbuka lebar.

“Sehingga dengan memperbesar bea masuk (BM) tembakau dari luar, maka otomatis tembakau lokal akan terserap lebih besar dan memperkuat posisi tembakau dalam negeri,” papar Agus.

Artinya, menurut Agus, jika pemerintah berharap dengan menaikan cukai rokok itu bisa meningkatkan penerimaan negara sekaligus mengendalikan konsumsi produk tembakau di Indonesia, tapi dikhawatirkan justru akan berdampak buruk terhadap petani.

“Kecuali pemerintah juga mengendalikan importasi tembakau yang masuk dan mengembalikan sebagian dana cukai hasil tembakau tersebut ke petani untuk digunakan meningkatkan kualitas dan kuantitas tembakau dalam negeri,” pungkas Agus. YIN

(Visited 74 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest