Bisnis Klaster Tingkatkan Kesejahteraan Petani Kopi

Harus diakui bahwa melalui skema bisnis kluster bisa meningkatkan kesejahteraan petani. mengapa demikian?

Direktur Legal and Corporate Affairs PT Nestlé Indonesia Debora Tjandrakusuma mengatakan bahwa melalui skema bisnis klaster maka para petani akan mendapatkan pelatihan dan pendampingan yang dilakukan secara komprehensif.

“Diantaranya mulai dari peremajaan kebun dalam bentuk pemberian bibit kopi kepada para petani, akses teknologi budi daya, pemberian sarana paska panen, serta akses ke pasar dan perbankan,” kata Debora, dalam keterangan rilis yang dilayangkan ke perkebunannews.com.

Sebab, menurut Debora, pasokan bahan baku dari para petani kopi seperti di Lampung memiliki peran yang penting bagi keberlanjutan bisnisnya, khususnya dalam menghadirkan produk-produk kopi berkualitas.

Atas dasar itulah Nestlé berkomitmen untuk mendukung para petani untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil produksi mereka, yang pada gilirannya akan membantu meningkatkan kesejahteraan mereka.

Nestlé berharap melalui pelatihan maka dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas yang tinggi, maka kesempatan para petani kopi untuk dapat ikut bersaing di pasar kopi nasional dan global juga akan semakin terbuka lebar. Diantaranya kemitraan strategis dengan para petani kopi di Tanggamus dan Lampung Barat sejak 1994.

“Kemitraan ini telah menjangkau sekitar 20.000 petani di Kabupaten Tanggamus dan Lampung Barat, dan seluruh petani tersebut kini telah memperoleh validasi 4C (Common Code for the Coffee Community). Yaitu sebuah standar yang disusun oleh 4C Association yang mencakup berbagai aspek dalam pertanian kopi yang berkelanjutan,” papar Debora.

Terbukti, Debora mengakui, melalui model kerja sama ini telah berhasil membantu para petani kopi untuk meningkatkan produktivitas serta kualitas hasil produksi. Bahkan petani juga mendapatkan kemudahan akses pasar serta dukungan perbankan yang diperlukan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan. “Jadi pada saat yang bersamaan Nestlé juga mendapat jaminan pasokan biji kopi berkualitas,” tutur Debora.

Sementara itu, Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Perindustrian Willem Petrus Riwu mengatakan, sebagai negara penghasil biji kopi terbesar keempat di dunia, Indonesia memproduksi rata-rata sebesar 639 ribu ton per tahun atau sekitar 8% dari produksi kopi dunia. Pihaknya optimis bahwa pertumbuhan kelas menengah dan perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia juga akan meningkatkan industri pengolahan kopi di dalam negeri secara signifikan.

Lalu, Asisten II Ekonomi dan Pembangunan Adeham, menambahkan, memang Provinsi Lampung sangat berpotensi tinggi untuk menjadi wilayah pengekspor kopi terbesar di Indonesia. “Namun, peningkatan produktivitas dan kualitas petani kopi masih menemui hambatan yang antara lain disebabkan oleh banyaknya tanaman kopi yang sudah berusia tua,” pungkas Adeham. S

(Visited 127 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest