Riset dan Inovasi Kunci Industri Sawit Berkelanjutan

Keuntungan pelaku sawit, manfaat sosial , devisa negara, penerimaan pajak, manfaat lingkungan dari industri sawit masih bisa ditingkatkan 300 persen kedepan melalui riset-inovasi yang berkelanjutan.

Industri sawit berkelanjutan yang dimaknai sebagai industri yang menguntungkan secara bisnis, menghasilkan manfaat sosial ekonomi bagi masayarakat dan menyumbang pada pelestarian lingkungan. Sawit yang hanya ramah lingkungan, tetapi tidak ramah sosial ekonomi dan tidak ramah bisnis, tidak akan berkelanjutan. Demikian juga sawit yang ramah secara bisnis dan sosial ekonomi tapi tidak ramah lingkungan, juga tidak berkelanjutan. Ketiga hal tersebut yakni ramah bisnis, ramah sosial ekonomi dan ramah lingkungan menjadi satu kesatuan dan secara sinergis menghasilkan industri sawit berkelanjutan.

Sawit yang berkelanjutan yang demikian tidak jatuh sendiri dari langit. Juga tidak otomatis terwujud dengan kebijakan Pemerintah saja atau dengan sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) saja. Sawit berkelanjutan yang demikian merupakan hasil proses perbaikan yang terus menerus (continues improvement) yang menyeluruh. Mulai dari perbaikan varietas, pupuk, alat-mesin, kultur teknis budidaya dan pemanenan, pengolahan di pabrik kelapa sawit (PKS) untuk meningkatkan produksi minyak hingga 8-10 ton minyak per hektar dengan kualitas jasa lingkungan yang lebih baik. Juga pengembangan produk-produk hilir untuk memperluas pasar sekaligus menyediakan aneka produk berbasis sawit yang dibutuhkan masyarakat. Industri sawit kita ke depan berpeluang meraih devisa 75 milyar dollar USA setiap tahun.

Kata kunci untuk melakukan perbaikan menyeluruh tersebut adalah inovasi-inovasi baru yang diperoleh dari riset yang berkesinambungan. Varietas baru yang mampu menyerap lebih banyak karbon dari udara dan menghasilkan minyak yang lebih tinggi merupakan inovasi. Produk pupuk sawit yang makin efektif diserap dan ramah lingkungan sehingga biaya pupuk makin rendah juga suatu inovasi. Kultur teknis konservasi tanah dan air yang memperbaiki kesuburan tanah untuk menopang produktivitas berkelanjutan juga diperlukan. Pengolahan biomas limbah PKS seperti tandan kosong, limbah cair untuk hasilkan biogas atau biolistrik, bioethanol, bioplastik juga proses inovasi. Pengolahan minyak sawit menjadi produk-produk hilir baik produk oleopangan complex, biofuel, biopelumas, biosurfaktan, bioplastik, dll memerlukan riset untuk inovasi. Dan banyak lagi area inovasi-inovasi lain baik dalam aspek ekonomi, sosial dan lingkungan yang diperlukan untuk mewujudkan industri sawit bekelanjutan.

Untuk melahirkan inovasi-inovasi bisnis pada area-area tersebut alatnya hanya riset yang berkesinambungan. Riset bukan hanya menghasilkan temuan baru (invention), yang lebih penting dan bermanfaat adalah melahirkan inovasi-inovasi bisnis. Tidak ada industri yang berhasil secara berkelanjutan tanpa didukung riset-inovasi yang kuat dan berkesinambungan.

Kesadaran akan pentingnya Riset-inovasi industri sawit nasional inilah mengapa dalam UU No. 39 tahun 2014 tentang perkebunan ditetapkan secara tegas bahwa Dana Sawit salah satunya diperuntukkan pada riset. BPDKS sebagai pengelola Dana Sawit memang sudah menyalurkan dana riset dalam dua tahun ini. Namun dana tersebut terlalu sedikit untuk riset hanya sekitar 0,3 persen dari Dana Sawit sekitar Rp 15 triliun setiap tahun. BPDKS perlu meningkatkan alokasi Dana Sawit Untuk riset di perguruan tinggi maupun lembaga riset lain. Secara bertahap BPDKS perlu mengalokasikan Dana Sawit untuk riset setidaknya 10 persen.

Industri Sawit Indonesia memerlukan inovasi-inovasi berkesinambungan untuk mewujudkan industri sawit bekelanjutan. Saat ini manfaat bisnis atau ekonomi, manfaat sosial, dan manfaat ekologis yang kita nikmati dari industri sawit masih sekitar 30 persen dari potensinya. Keuntungan pelaku sawit, manfaat bagi masyarakat, devisa negara, penerimaan pajak, manfaat lingkungan termasuk Dana Sawit yang terhimpun, masih bisa ditingkatkan 300 persen kedepan. Caranya adalah melalui Riset-inovasi yang berkelanjutan.
Sumber: indonesiakita.or.id/YIN

(Visited 27 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest