ISPO Melebarkan Sayap ke Rusia

Moskow – Rusia merupakan salah satu pasar minyak sawit asal Indonesia, meski tidak besar tapi permintannya terus meningkat.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan tahun 2016, ekspor minyak sawit ke Rusia melebihi 663 ribu ton dengan nilai kurang lebih USD 440 Juta. Bahkan ekspor minyak sawit Indonesia ke Rusia juga meningkat setiap tahunnya dan masih mempunyai potensi untuk ditingkatkan.

“Artinya Rusia sebagai mitra perdagangan Indonesia yang memiliki pasar potensial untuk produk minyak sawit Indonesia,” kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, dalam acara Forum Bisnis Indonesia – Rusia Untuk Sawit (Indonesia – Russia Business Forum on Palm Oil) di Rusia.

Lebih lanjut, membenarkan bahwa saat ini produk sawit Indonesia merupakan produk yang sustainable (keberlanjutan), healthy (sehat) dan bersih. “Semua produk sawit Indonesia mulai penanaman sampai produksi hilirnya telah mengikuti standar Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO),” tegas Enggartiasto.

Semua produk sawit Indonesia sudah mengarah ke sustainable, lanjut Enggartiasto, karena pemerintah Indonesia berkomitmen untuk terus memastikan penerapan prinsip-prinsip sustainability dalam setiap aspek produk sawit Indonesia.

Bahkan untuk pihak pemerintah Indonesia bersedia mengundang Lembaga Riset dari Universitas Moskow serta para pengusaha Rusia untuk datang ke Indonesia agar dapat melihat secara langsung pengelolaan produk sawit Indonesia dari mulai penanaman sampai produk hilir yang semuanya dilakukan secara sustainable.

“Ini karena pengelolan industri minyak sawit Indonesia berpedoman pada praktek budidaya pertanian yang baik (Good Agricultural Practices atau GAP),” ucap Enggartiasto.

Terbukti, Enggartiasto menerangkan sejak tahun 2011 Indonesia telah membuat regulasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) yang bersifat mandatory bagi semua perusahaan, sebagai mana komitmen Indonesia untuk mengikuti protocol kesepakatan yang telah ditandatangani dalam COP 21- Paris tentang pengurangan emisi gas rumah kaca terutama dari sektor Perkebunan.

“Tidak hanya menerapkan ISPO yang mencangkup Sustainability tapi kita juga menerapkan zero waste management dengan memanfaatkan POME (Palm Oil Mill Efluent) menjadi bahan bakar energy bio-mass atau pun mejadi bio-fertilizer dan lain sebagainya,” papar Enggartiasto.

Lebih dari itu, Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Dono Boestami menambahkan bahwa dalam kontek climate change dan komitmen nasional masing-masing negara untuk menurunkan emisi rumah kaca (Indonesia 29% dari business as usual dan Rusia 25% sampai 30% tahun 2030).

Melihat hal ini, maka perkebunan kelapa sawit telah menjadi salah satu solusi yang menjanjikan terkait pengembangan energi baru dan terbarukan. “Jadi beberapa negara telah melirik dan mempergunakan biodiesel dari kelapa sawit sebagai bagian dari energy mix untuk mengurangi ketergantungan pada fossil fuel,” ucap Dono.

Alhasil, Dono mengatakan, Akademisi Rusia, dari Universitas Moskox diantaranya Prof. Dr. Medvedev akan bekerja sama dalam penelitian riset mengenai produk-produk sawit termasuk biodiesel serta kerjasama di bidang riset terkait berbagai aspek dari pemanfaatan sawit (kesehatan, lingkungan, dan penyerapan karbon).

Sementara itu, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia (LBBP RI) untuk Rusia, M. Wahid Supriyadi menyampaikan bahwa tujuan dari Forum Bisnis Untuk Sawit ini didasarkan pada fakta bahwa Rusia merupakan mitra perdagangan Indonesia yang potensial khususnya untuk minyak sawit.

“Rusia merupakan salah satu pasar minyak sawit yang penting untuk Indonesia. Ekspor minyak sawit Indonesia terus meningkat dari tahun ketahun serta potensinya masih sangat besar untuk ditingkatkan,” pungkas Wahid. YIN

(Visited 18 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest