Produsen Teh Indonesia Minta Uni Eropa Ubah Aturan Anthrakuinon

Produsen teh Indonesia meminta Uni Eropa mengubah aturan ambang batas anthrakuinon sebesar 0,02 ppm pada produk teh. Karena teh merupakan produk minuman bukan makanan. Akibat aturan itu ekspor teh ke Uni Eropa turun sebesar 43 persen.

Hal tersebut mengemuka pada pertemuan Dewan Teh Indonesia (DTI dengan delegasi konsultan dari Brussel, Belgia Mr Maurits Bruggink di Jakarta, Senin (31/7). Pertemuan dihadiri Ketua Umum DTI Rachmat Badaruddin, Sekretaris Jenderal DTI Suharyo Husen dan para pengurus. Turut hadir juga Sekretaris Eksekutif Asosiasi Teh Indonesia (ATI) Atik Darmadi, Peneliti teh dari Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung Rohayati Suprihatin dan perusahaan teh Indonesia.

Dalam pertemuan itu Bruggink mengatakan bahwa diberlakukannya aturan ambang batas anthrakuinon sebesar 0,02 persen di semua negara yang tergabung dalam Uni Eropa ditujukan untuk melindungi masyarakat dari zat makanan dan minuman yang dapat membahayakan tubuh.

Meski begitu, protes Indonesia dalam penerapan aturan itu akan disampaikan ke parlemen Uni Eropa. Apalagi protes itu didasarkan atas riset tentang anthrakuinon yang dilakukan PPTK Gambung. Selain itu produsen teh Indonesia juga diminta untuk mengadakan pertemuan dengan importir Eropa setiap enam bulan sekali.

Hanya saja, Peneliti Teh dari PPTK Gambung Rohayati Suprihatin mengatakan, mestinya aturan ambang batas anthrakuinon yang diberlakukan Uni Eropa didasarkan pada riset yang sesuai dengan subyeknya. Karena ambang batas anthrakuinon diberlakukan pada semua produk makanan dan minuman. “Dan produk teh yang dikaji bukan produk minuman tapi produk daun kering. Padahal yang dikonsumsi orang untuk teh kan minumannya bukan daunnya,” ujarnyakepada Media Perkebunan.

Menurut Rohayati, sejak diberlakukan aturan ambang batas athraquinon pada produk teh, ekspor teh Indonesia ke Uni Eropa turun 43 persen. Sebelum diterapkan aturan itu, ekspor teh ke Uni Eropa pada 2013 mencapai 17,646 ton. Namun sejak diberlakukan MRL pada ekpor teh pada 2104 turun menjadi 10,030 ton. Pangsa ekspor pasar teh Indonesia ke Uni Eropa selama ini mencapai 19 persen. (YR)

(Visited 35 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest