Dirjen Perkebunan Usulkan BK 20% untuk Biji Kakao Asalan

Pengenaan BK (Bea Keluar) kakao yang mencapai 0 – 15 persen saat ini sudah berhasil meningkatkan industri kakao didalam negeri. Atas dasar itulah Bambang Dirjen Perkebunan, Kementerian Pertanian berharap agar BK untuk biji kakao asalan ditingkatkan menjadi 20 persen.

“Saya berharap untuk BK biji kakao asalan bisa menjadi 20 persen, sedangkan untuk kakao fermentasi tidak dikenakan BK. Ini merupakan intensif bagi biji kakao fermentasi dan disintensif bagi ekspor biji kakao asalan,” usul Bambang.

Sehingga dalam hal ini, Bambang berharap bisa mengurangi ekspor biji kakao asalan dan lebih mengarah kepada kakao fermentasi ataupun kakao olahan baik setengah jadi ataupun barang jadi.

Seperti diketahui, dengan pengenaan BK 20 persen maka secara tidak langsung dapat mempererbaiki mutu biji kakao dalam negeri kemudian 0 persen untuk biji kakao fermentasi, dengan begitu maka dapat mengembangkan biji kakao fermentasi di Indonesia.

“Cara ini harus dikakukan untuk meningkatkan mutu melalui fermentasi tetapi sampai saat ini belum berhasil. Penyebabnya adalah tidak adanya dukungan pasar,” jelas Bambang.

Disisi lain, Bambang menjelaskan bahwa produksi kakao tahun ini diperkirakan mencapai 595.000 ton akibat adanya El Nino. Sedang kapasitas industri pengolahan dalam negeri mencapai 850.000 ton. Melihat kondisi ini maka impor biji kakao tidak masalah karena masih kekurangan.

“Tetapi kalau produksi meningkat maka impor harus dibatasi. Bahkan dengan dengan adanya perbaikan tanaman kakao di tahun 2016 ini maka diperkirakan mencapai 800.000 ton,” pungkas Bambang. S

(Visited 14 times, 1 visits today)

One thought on “Dirjen Perkebunan Usulkan BK 20% untuk Biji Kakao Asalan

  • February 9, 2017 at 6:59 AM
    Permalink

    Bapak Dirjen yang terhormat,

    Dengan rencana pengenaan biaya keluar (BK) yang semakin besar, kami petani akan semakin terjepit karena BK ii akan dikompensasikan oleh para pengumpul ke kami para petani, akibatnya banyak diantara petani yang tidak mengurus kebunnya karena biaya produksi lebih tinggi dari harga jual produksi.
    Dengan semakin langkanya pupuk bersubsidi dan bertambahnya jenis hama kakao, maka semakin terjepitlah para petani kakao.
    Kami, para petani, akan dengan senang hati untuk lalkukan fermentasi kalau memang seimbang antara penambahan harga beli fermentasi dengan usaha yang kami keluarkan. Yang ada adalah, para pengumupul tidak membedakan anatara harga fermentasi dan harga non fermentasi yang membuat kami memilih jalan yang lebih praktis.
    Saya kira masalah utama saat ini adalah tidak adanya kepastian ke para petani kakao baik berupa kepastian mendapatkan pupuk secara reguler sesuai dengan anjuran pemupukan dari para penyuluh, penyuluhan yang memadai terkait pencegahan penyakit pada kakao, penyuluhan yang efektif tentang fermentasi dan kepastian/standar harga yang sepadan untuk kakao yang dipelihara dengan baik dan di fermentasi dengan kakao yang tidak dipelihara dan tidak di fermentasi.
    Kami tidak bisa meningkatkan produksi kakao kami karena terkadang dalam setahun kami tidak mendapatkan pupuk, pun ada sangat terbatas sehingga tidak mencukupi standar pemupukan yang benar.
    Di tempat kami, di daerah Pendolo Kabupaten Poso, Sulteng, sebagian petani hanya pasrah dengan keadaan pohon kakao mereka, produksi kakao yang tidak maksimal ditambah pula dengan harga yang diterima petani lebih kecil sehingga pemeliharaan pohon kakao juga tidak maksimal.

    Salam,
    Frans

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest