Menginvestasikan Kaum Muda di Sektor Pertanian Kakao Indonesia

Mondelez Indonesia, Cocoa Sustainability Partnership, dan Indonesia Business Council for Sustainable Development Mengkaji Pentingnya Peran Kaum Muda di Sektor Kakao dan Pertanian

Mondelēz International Program Cocoa Life bersama Cocoa Sustainability Partnership (CSP), dan Indonesian Business Council for Sustainable Development (IBCSD) mengundang praktisi pembangunan pemuda, perwakilan pemerintah, perwakilan industri dan akademisi, untuk bersama-sama merumuskan langkah perubahan untuk meningkatkan peran kaum muda di sektor pertanian khususnya kakao di Indonesia melalui sebuah lokakarya bertajuk “Youth Engagement in Sustainable Agriculture” – Peran Kaum Muda dalam Pertanian yang Berkelanjutan.

Dalam lokakarya ini, para pemangku kepentingan mendefinisikan kondisi terkini termasuk kebijakan dan praktik terbaik mengenai keterlibatan kaum muda di sektor kakao dan pertanian.
Indonesia merupakan negara penghasil produksi kakao terbesar ketiga di dunia yang diikuti dengan tingginya permintaan dan kestabilan harga. Catatan Gross Domestic Product (GDP) di akhir tahun 2015 menyebutkan kontribusi sektor pertanian termasuk kakao mencapai total 9%.

Hanya saja, potensi ini tidak diiringi oleh ketertarikan dan partisipasi kaum muda di sektor pertanian kakao, yang dapat berdampak pada keberlanjutan sektor ini di masa mendatang. Fakta tersebut tercermin dalam penelitian Mondelez Indonesia di 6 (enam) kabupaten di Sumatera dan Sulawesi. Penelitian yang menggandeng Universitas Gadjah Mada dan Survey Meter ini memperlihatkan rendahnya partisipasi kaum muda baik yang bekerja secara langsung ataupun yang membantu orang tua atau pihak lainnya pada pertanian kakao. Petani kakao masih didominasi oleh smallholder farmers atau petani dengan lahan kecil yang berusia di atas 40 tahun.

Berdasarkan penelitian, partisipasi kaum muda yang bekerja langsung di sektor kakao pada kelompok usia 18-24 tahun sebesar 4% dan kelompok 25-31 tahun sebesar 21%. Adapun persentase keterlibatan kaum muda untuk membantu orang tua/pihak lainnya di sektor pertanian kakao juga menunjukkan angka rendah. Pada kelompok usia 18-24 tahun dan 25-35 tahun partisipasi hanya sebesar 31% dan 25%

“Kami sangat mendukung keberlangsungan acara yang memiliki tujuan untuk meningkatkan partisipasi kaum muda di sektor pertanian khususnya kakao, seperti lokakarya ini.” kata Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian.

Melalui pemaparan presentasi dalam lokakarya ini, ditemukan lima masalah yang menghambat partisipasi kaum muda di sektor pertanian kakao. Beberapa di antaranya adalah keterbatasan lahan, keterbatasan pengetahuan mengenai pertanian kakao, di antara kaum muda, akses ekonomi, dukungan yang minim, serta persepsi kaum muda bahwa kakao bukanlah profesi yang menjanjikan. Usai melalui rangkaian diskusi, peserta membahas solusi yang diterapkan.

Adapun solusi yang ditawarkan adalah mendukung generasi pemimpin kaum muda untuk memulai aktivitas pertanian kakao, memfasilitasi pemimpin kaum muda untuk mengatasi pengangguran melalui pertanian kakao, menyediakan akses pelatihan pertanian kakao pada petani kaum muda, dan melibatkan komunitas kaum muda dalam rangka penyediaan alat-alat pertanian kakao. Rangkaian solusi-solusi tersebut tentunya tidak akan mampu berjalan dengan baik tanpa adanya kerja sama berbagai pihak untuk mewujudkan partisipasi kaum muda di sektor kakao.

Budi Santosa, Executive Director of Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD), menambahkan “Lokakarya keterlibatan kaum muda adalah salah satu dari komitmen IBCSD untuk mencapai pembangunan berkelanjutan pada sektor pertanian yang masuk sebagai salah satu inisiatif untuk menurunkan kemiskinan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara umum.

IBCSD percaya bahwa dengan mengomunikasikan pertanian berkelanjutan pada kaum muda akan membantu meningkatkan kapasitas kaum muda sebagai elemen penting produktifitas dalam pembangunan pertanian yang berkelanjutan. Bersama dengan salah satu anggota kami, yakni Mondelez Indonesia dan CSP berinisiatif untuk memberikan serangkaian aksi untuk mencapai partisipasi kaum muda pada pertanian berkelanjutan untuk mempertemukan kebutuhan saat ini tanpa menghilangkan kemampuan generasi berikutnya.”

Andi Sitti Asmayanti, Mondelēz International Director of Cocoa Life for South East Asia , menerangkan bahwa keberlanjutan sektor pertanian kakao Indonesia sangat penting untuk diperhatikan. “Kaum muda sebagai generasi penerus merupakan satu dari lima pilar dalam program Cocoa Life. Kami bergerak untuk menjadikan pertanian kakao sebagai tempat yang menjanjikan bagi kaum muda untuk tumbuh dan berkarir.”

Cocoa Life, sebagai salah satu program Mondelez Indonesia, bertujuan untuk meningkatkan taraf kehidupan komunitas petani Indonesia dengan menghubungkan praktik pertanian kakao dengan pembangunan komunitas. Pada akhir tahun 2015, Cocoa Life telah bekerja dengan 8.100 smallholder farmers kakao Indonesia dari 79 komunitas di Sulawesi dan Sumatera, membantu mereka meningkatkan praktik pertanian, komunitas, dan taraf kehidupannya. Sejak tahun 2013, Cocoa Life telah bekerjasama dengan banyak pihak seperti Cargill Indonesia, Olam International, CARE International, Save the Children, Swisscontact, Wahana Visi Indonesia, dan International Finance Corporation yang membantu Cocoa Life untuk mengakses kebutuhan komunitas petani dan implementasi program berkelanjutan. YIN

(Visited 2 times, 1 visits today)

One thought on “Menginvestasikan Kaum Muda di Sektor Pertanian Kakao Indonesia

  • February 9, 2017 at 7:30 AM
    Permalink

    Dear Cocoa Life,
    saya adalah salah satu petani Kakao di Sulawesi Tengah, tepatnya daerah Pendolo, Kabupaten Poso.
    Membaca uraian program Cocoa Life di atas, saya sebagai salah satu petani kakao sangat tertarik dengan program di atas. Jikalau memang Coca Life sudah hadir di sulawesi, apakah sudah pernah jalan-jalan di tempat kami?, sebagai tambahan informasi, sekitar 25 30% masyarakatnya adalah petani kakao, sayangnya kehidupan kami masih jauh dari saudara-saudara kami di daerah lain. Sebagai tambahan informasi, karena daerah kami tidak mempunyai potensi selain pertanian terutama perkebunan, sebagian besar masyarakatnya menggangtungkan hidup ke pertanian, termasuk generasi mudanya.
    memang saat ini, memilih hidup sebagai petani kakao belumlah menjadi pilihan utama karena bertani kakao sendiri baru sekedar untuk menyambung hidup, hidup cukup saja susah apalagi sejahtera.
    Sudah banyak sekali penelitiian yang mengungkapkan bahwa bertani termasuk sebagai petani kakao belumlah menjamin hidup layak, entah karena kekurang pengetahuan bertani secara baik, maupun harga komoditas kakao sendiri yang tidak sebanding dengan pengeluaran.
    Dengan adanya program untuk menarik kaum muda jadi petani terutama petani kakao sangat menarik untuk diterapkan di daerah kami karena memang kaum mudanya tidak punya pilihan pekerjaan lain. kalau berkenan, silahkan jalan-jalan ke tempat kami, potensi kaum muda sangat besar, luas lahan juga lebih dari cukup, hanya butuh penggerak yang benar dengan cara yang benar pula, maka sasaran kaum muda memilih hidup sebagai petani kakao akan semakin besar

    Salam,
    Frans

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

X

Pin It on Pinterest

X