Program Sawit – Jagung: Kementan Jangan “Egois”

Kerjasama menjadi kunci keberhasilan dari semua program termasuk pada program peningkatan produksi padi, jagung dan kedelai (pajale) melalui tumpang sari sawit – jagung, untuk itu Kementerian Pertanian (Kementan) harus bekerja sama dengan kementerian lainnya jangan “egois” atau bekerja sendiri.

Benar, Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Winarno Tohir mengakui, untuk mengurangi impor jagung adalah dengan meningkatkan produksi didalam negeri, salah satu diantaranya yaitu dengan memperluas areal tanam dengan cara melakukan tumpang sari sawit – jagung. Tapi juga harus diakui bahwa peningkatan produksi tidak akan terjadi jika bekerja secara sendiri atau tidak ada kerjasama antar Kemenetarian.

“Disinilah Menteri Pertanian belum pernah mengajak pak Menteri Perindustrian baru mengajak Menteri Koperasi, dan Menteri Desa dalam meningkatkan produksi jagung,” keluh Winarno dalam acara penganugerahan Petani Andalan Negeri (Pelangi) Award 2016, di Jakarta.

Sebab, Winarno menjelaskan jika dari sisi on farm (budidaya) memang ranahnya Kemeneterian Pertanian (Kementan). tapi jika sudah mengarah ke pasca panen untuk sudah masuk wilayah Kementerian Perindustrian. Seperti diketahui bahwa jagung termasuk komoditas industri karena sebagian besar digunakan untuk bahan baku pakan ternak.

Melihat hal ini maka sudah sehrusnya Menteri Perindustrian diberi peran atau dilibatkan dalam program sawit – jagung ini. Karena Kementerian Perindustrian yang mengerti spesifikasi seperti apa jagung yang dibutuhkan untuk kalangan industri termasuk industri pakan ternak.

Artinya hasil panen jagung dari program tumpang sari sawit – jagung ini dalam hal pegeringannya atau pasca panen Kementerian Perindustrian harus mengedukasi petani sawit serta memberikan bantuan berupa drayer untuk pengeringannya.

“Seperti diketahui petani tidak bisa berbuat banyak untuk mengeringkan hasil panennya sesuai dengan kriteria industri pakan ternak. Sebab jika petani hanya mengandalkan matahari maka tingkat kekeringannya tidak sesuai dengan kebutuhan industri karena saat ini masuk musim penghujan,” terang Winarno. Berita selengkapnya ada pada Majalah Media Perkebunan Edisi 156/November/2016

(Visited 61 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest