Kelapa Sawit Agribisnis Pro-Lingkungan

Kelapa sawit memberikan manfaat ganda yaitu menghasilkan biofuel dan menyerap CO2 dalam jumlah besar.

Masalah kenaikan temperatur atmosfir bumi yang lebih dikenal sebagai pemanasan global (global warning system) menjadi perhatian dan keprihatinan masyarakat dunia. Pemanasan global yang menyebabkan perubahan iklim global (global climate change) seperti anomali iklim, banjir dan kekeringan, dan lain-lain serta dampaknya terhadap kehidupan secara global telah memaksa aksi global untuk mencegah dan mencari solusi atas masalah tersebut.

Pemanasan global disebabkan meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca (green house gases) di atmosfir bumi yang melampaui konsentrasi alamiahnya. Gas-gas rumah kaca yang dimaksud adalah karbondioksida (CO2), methane (CH4), chlorofluorokarbons (CFC) dan Nitrous oxide (NO). Secara alamiah dan pada konsentrasi alamiahnya, gas-gas rumah kaca tersebut berfungsi untuk memelihara temperatur atmosfir bumi, yakni menyerap radiasi inframerah sinar matahari dan memperangkap sebagian panas matahari yang dipantulkan dari permukaan bumi, sehingga atmosfir bumi nyaman dam aman bagi kehidupan.

Peningkatan konsentrasi gas-gas rumah kaca tersebut yang melampaui konsentrasi alamiah menyebabkan semakin banyak panas matahari yang terperangkap di atmosfir bumi sehingga temperatur atmosfir bumi meningkat. Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yakni suatu badan yang dibentuk tahun 1988 yang meneliti pemanasan global, konsentrasi CO2 atmosfir bumi telah meningkat 33 persen dari konsentrasi gas tersebut pada tahun 1800. Penyebab utamanya adalah penggunaan intensif bahan bakar fosil (fosil fuels) seperti minyak bumi, batu bara dan gas. Sekitar 61 persen dari pemanasan global disumbang oleh kenaikan CO2 (IPCC, 1991).

Menurut International Energy Agency (2009), lima negara penghasil emisi CO2 tersebar adalah China (7519 juta ton), Amerika Serikat (5942 juta ton), India (1539 juta ton), Rusia (1535 juta ton) dan Jepang (1222 juta ton). Kelima negara tersebut merupakan pengkonsumsi energi fosil terbesar didunia.

Mengingat penyebab utama pemanasan global adalah peningkatan konsentrasi CO2 atmosfir bumi, maka solusinya adalah bagaimana mengurangi konsumsi energi fosil agar konsentrasi CO2 atmosfir tidak naik terus dan bagaimana menurunkan konsentrasi CO2 atmosfir yang sudah terlalu tinggi tersebut, jika mungkin kembali pada konsentrasi alamiahnya.

Satu-satunya mekanisme alam yang dapat menyerap CO2 dari udara adalah tumbuhan. Semua jenis tumbuhan memiliki proses fotosintesis (asimilasi) yang menyerap CO2 atmosfir dan menyimpannya dalam bentuk tubuh tumbuhan dan produksi tumbuhan. Memang tumbuhan juga melepaskan CO2 ke atmosfir melalui proses respirasi. Namun, secara netto tumbuhan adalah penyerap CO2 dari atmosfir bumi. Semakin cepat dan besar pertumbuhan dan produksi tumbuhan, semakin banyak CO2 yang diserap. Justru karena penyerapan CO2 yang besar inilah tumbuhan dapat bertumbuh dan berproduksi.
Tanaman (pohon) kelapa sawit merupakan penyerap CO2 sama dengan tumbuhan lain seperti tanaman kayu hutan. Hasil penelitian Henson (1999) mengungkapkan bahwa dalam proses fotosintesis (asimilasi) kelapa sawit menyerap sekitar 161 ton CO2 per hektar per tahun. Bila dikurangi CO2 yang diserap dalam proses respirasi, maka secara netto kebun kelapa sawit menyerap CO2 sebesar 64,5 ton CO2 per hektar per tahun. Hal yang menarik adalah penyerapan netto Co2 dari kelapa sawit tersebut melampaui kemampuan hutan hujan tropis (rain forest) yang secara netto menyerap CO2 sebesar 42,4 ton CO2/ha/tahun.

Jika masyarakat internasional benar-benar berkomitmen mengatasi pemanasan global, pengurangan emisi CO2 harus dilakukan dengan secepatnya mengalihkan konsumsi bahan bakar fosil kepada biofuel secara global. Dalam kerangka itu, pengembangan perkebunan kelapa sawit sebagai penghasil biofuel yang paling efisien di dunia saat ini merupakan bagian dari solusi yang memberi manfaat ganda. Selain menghasilkan biofuel sebagai substitusi petrofuel, perkebunan kelapa sawit akan menyerap CO2 dalam jumlah besar. Semakin besar konsumsi minyak sawit global, semakin berkembang produksi minyak sawit dan semakin besar volume CO2 yang diserap pohon kelapa sawit. Jangan musuhi perkebunan kelapa sawit, karena memusuhi perkebunan kelapa sawit sama artinya membiarkan pemanasan global berkelanjutan. Sumber: sawit.or.id/YIN

(Visited 15 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest