Tindak Tegas Pelaku Kejahatan Perkebunan

“Kejahatan terjadi bukan saja karena niat si pelaku tapi karena ada kesempatan. Waspadalah, waspadalah,” kata Bang Napi. Ternyata, kalimat tersebut bukan hanya berlaku pada tidak hanya di kota saja, tapi juga berlaku pada komoditas perkebunan.

Kepala Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabaharkam), Komjen Pol Drs Putut Eko Bayuseno, SH mengakui bahwa saat ini tindak kejahatan tidak hanya di kota-kota besar saja tapi juga telah merambah ke lahan-lahan perkebunan, diantaranya perkebunan kelapa sawit.Adapun salah satu bentuk kejahatan yang terjadi di perkebunan kelapa sawit yaitu merebaknya pencurian tandan buah segar (TBS) kelapa sawit.

“Saat ini tidak sedikit terjadi pencurian TBS di perkebunan kelapa sawit untuk wilayah Sumatera Utara,” kata Bayuseno

Melihat hal ini, Bayuseno menyarankan agar perusahaan tidak hanya meningkatkan keamanan pada lahan perkebunannya tapi juga untuk bisa lebih dekat lagi kepada masyarakat setempat. Caranya yaitu dengan melibatkan masyarakat menjadi tim keamanan dalam suatu lahan perkebunan, atau bisa juga dengan memperkerjakan masyarakat sekitar kedalam perushaan tersebut. Bisa sebagai buruh kebun, ataupun pekerja pabrik kelapa sawit (PKS).

“Jadi saya punya pengalaman bahwa dengan memperkerjakan masyarakat kedalam suatu perusahaan, maka masyarakat merasa bagian dari perusahaan tersebut,” himbau Bayuseno.

Namun, Bayuseno pun mengakui bahwa pencurian juga bisa saja terjadi karena adanya kesempatan. Maka dalam hal ini penggang jawab dari adanya pencurian tidak hanya diserahkan kepada pihak keamanan saja baik keamanan dari pihak perusahaan ataupun kepolisian.

Sebab seperti diketahui saat ini luas perkebunan kelapa sawit telah mencapai 11 juta hektar baik perusahaan ataupun milik petani, dan itu tersebar di daerah-daerah. Sedangkan jumlah kepolisian yang bertugas di wilayah perkebunan kelapa sawit jumlahnya terbatas.

“Atas dasar itulah kita bersama masyarakat dan perusahaan wajib bahu-membahu guna menciptakan keamanan di areal perkebunan kelapa sawit,” tegas Bayuseno.

Disisi lain, Bayuseno menambahkan tindak kejahatan juga terjadi tidak hanya pada areal perkebunan kelapa sawit saja, tapi juga pada kendaraan pengangkut minyak sawit. Terbukti tidak sedikit truk yang mengangkut minyak sawit “kencing” (menuangkan) minyak sawitnya di pinggir jalan.

Melihat hal ini maka kemanan harus ditingkatkan tidak hanya di areal perkebunan saja tapi juga pada rute truk pembawa minyak sawit. Sebab biasanya untuk kejahatan seperti ini truk “kencing” di jalan sudah di rencanakan.

“Ada pihak yang memang menampung minyak sawit di jalan dan truk pembawa minyak tinggal berhenti lalu menuangkannya. Meskipun jumlahnya tidak besar tapi ini sudah merugikan pihak lain dan masuk dalam tindak kejahatan,” tegas Bayuseno.

Kemudian, Bayuseno pun berjanji akan menindak tegas aktivis NGO yang masuk masuk perkebunan sawit tanpa izin lalu mengambil data dan dokumentasi. Terutama bagi kegiatan yang akan dipakai menjadi bahan kampanye negatif sawit.

Sebab dengan mengambil data tanpa sepengetahuan si pemilik maka hal ini bisa dimasukan dalam kategori kejahatan, sebab dalam hal ini yang dirugikan tidak hanya pemilik lahan, tapi juga perkebunan kelapa sawit nasional.

“Jadi masuk ke kebun tanpa izin termasuk suatu pelanggaran. Kami akan mengambil langkah hukum terkait kegiatan tersebut,” janji Bayuseno.

Artinya, menurut Bayuseno yang namanya kejahatan tidak hanya mengambil suatu barang saja. Tapi masuk kedalam areal kemudian membuat isu yang tidak benar juga masuk dalam tindak kejahatan juga.
Memang dampaknya tidak secara langsung seperti berkurangnya produktivitas TBS. Namun dengan masuk ke areal kemudian membuat isu yang tidak benar juga merugikan pemilik kebun bahkan bisa merugikan perkebunan secara nasional.

“Atas dasar ini jika melanggar maka hukum harus ditegakkan, jadi kita akan melakukan penyidikan sampai pengadilan,” tutur Bayuseno. YIN

(Visited 15 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest