Peremajaan dan Hilirisasi Karet Harus Dilakukan Bersamaan

Saat ini merupakan momentum yang tepat untuk melaksanakan replanting karet karena ada kesepakatan International Tripartite Rubber Council untuk menurunkan ekspor. Dalam jangka menengah dan panjang Indonesia paling diuntungkan sebab sebagian besar tanaman sudah tua.

“Bila 50% saja diremajakan dengan klon karet unggul maka dalam jangka menengah dan panjang Indonesia bisa jadi produsen karet terbesar. Karena lebih menguntungkan Indonesia inilah maka Vietnam belum mau melakukan penurunan ekspor,” kata Menko Perekonomian Darmin Nasution.

Vietnam sebagian besar tanamanya masih muda sehingga keberatan melakukan penurunan ekspor dan peremajaan. Tantangan sekarang adalah bagaimana membujuk Vietnam agar mau ikut penurunan ekspor sehingga harga karet semakin meningkat.

Diakui saat ini dengan postur APBN yang ada kemampuan pemerintah untuk melakukan peremajaan sangat terbatas.
Pemerintah sedang mencoba pembiayaan lewat KUR (Kredit Usaha Rakyat). Selain itu GAPKINDO juga diminta terlibat membantu petani melakukan peremajaan.

Masalah lain adalah hilirisasi industri karet yang belum berkembang. Di luar industri ban, industri lain tidak bertumbuh secara significant. Padahal saat ini industri aspal karet, infrastruktur rel kereta api dan pelabuhan, juga industri kesehatan membutuhkan karet dalam jumlah besar. Jadi hilirisasi bidang ini harus terus ditingkatkan dengan membangun industri hilir non ban.

Darmin juga setuju pembentukan bursa fisik karet sukarela. Bursa ini harus menguntungkan semua pihak dan jangan jadi instrumen finansial saja. S

Pin It on Pinterest