Manajemen Kunci Mengelola Gambut

KUCHING – Hisao Furukawa, Profesor Emeritus Universitas Kyoto Jepang mengatakan, gambut terkelola (manage peatland) mampu mempertahankan fungsi ekologis kawasan, lebih berkelanjutan (sustainable) dan dapat dimanfaatkan untik kegiatan produksi.

“Pada gambut terkelola, fungsi-fungsi gambut sebagai penyimpan air, penyimpan karbon, penyimpan biodiversitas flora dan fauna tetap terjaga. Begitu juga fungsinya sebagai media tanam dapat termanfaatkan, “ kata Furukawa pada Press Conference 15 th IPC 2016, di Kuching, Sarawak, Selasa (16/8).

Karena itu, kata Furukawa, gambut terkelola harus menjadi fokus perhatian agar fungsi-fungsi gambut tidak rusak. Begitu juga fungsi produksinya termanfaatkan.“Teknologi ekohidro dan pemadatan yang diterapkan industri kelapa sawit dan Hutan Tanaman Industri (HTI) di di Indonesia juga merupakan bagian dari pengelolaan gambut berkelanjutan,” kata Furukawa.

Pernyataan senada disampaikan Datuk Addul Hamed Sepawi dari Ta Ann Holdings Berhard, Malaysia.

Secara sederhana, kata Hamed, gambut terkelola yang diatasnya ada tanaman lebih memberi perlindungan karena sinar matahari tidak mengena, sehingga gambut sehingga mudah kering. Pada gambut yang tidak terkelola terutama gambut yang terdegradasi gambut mudah rusak dan mudah terbakar karena tidak ada tanaman di atasnya.

Hamed mengungkapkan, pemerintah Malaysia sangat mendukung pemanfaatan gambut. Di Sarawak, Malaysia gambut dikelola dengan baik sehingga tidak terbakar. Sarawak merupakan kawasan gambut terbesar dengan luasan 1,6 juta hektar lahan gambut atau 13 persen dari luas daratan.

“Kami menerapkan praktik terbaik dalam pengelolaan tanah gambut teknologi pemadatan dan tata kelola air menjadi bagian penting dalam pengelolaan gambut, Sarawak tidak pernah mengalami kebakaran lahan seperti di Indonesia,” ungkap Hamed.

Hamed menambahkan, pemadatan dalam tata kelola gambut di Malaysia membantu peningkatan produktivitas sawit.Jika sebelum, perkebunan sawit di Malaysia hanya menghasilkan 15 ton per ha melalui pemadatan meningkat antara 30-40 ton per hektar. Pemadatan juga membantu untuk mengurangi subsidensi.

Hingga hari ini, setelah lebih dari 3 generasi, kami berhasil mengelola gambut secara berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. pemanfataan gambut tidak hanya memberikan pendapatan yang baik bagi pemerintah, tetapi juga mensejahterakan masyarakat.

Pakar Gambut IPB Basuki Sumawinata mengatakan, kebakaran gambut di Indonesia banyak tejadi pada kawasan tidak bertuan (open acces).Biasanya kalau pun kebakaran terjadi di sekitar kawasan kebun, lokasinya berada di perbatasan (border) dengan wilayah tak bertuan atau kawasan yang tidak terkelola.

“Sangat jarang kebakaran terjadi di kawasan perkebunan atau HTI karena pasti masyarakat atau perusahaan bekerja keras menjaga agar tidak terbakar,” kata Basuki.

Menurut Basuki yang harus dilakukan perlunya penataan kawasan agar ada pihak -yang bertanggung jawab. Ini yang harus kita pelajari dari Malaysia yakni keterlibatan pemerintah untuk mendorong pemanfaatan gambut secara bersama. Hampir seluruh kawasan gambut di Malaysia dikelola oleh perusahaan besar sedang dan kecil yang semuanya dalam kendali pemerintah atau otoritas. Masyarakat di Malaysia tidak bisa seenaknya mengelola lahan tanpa ijin. YIN

(Visited 1 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

X

Pin It on Pinterest

X