Produesen Benih Harus Membidik Petani

Memang permintaan akan crude palm oil (CPO) terus meningkat, akan saat ini harga CPO sedang mengalami penurunan. Lalu bagaimana solusi bagi produsen benih?

Tony Liwang, Direktur R&D PT Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMART) Tbk mengakui bahwa penjualan benih nasional setiap tahunnya terus merosot sebesar 20%. Berdasarkan catatannya bahwa penjualan benih nasional tahun 2011 sempat menembus angka sekitar 170 juta kecambah, lalu tahun berikutnya 2012 menurun menjadi sekitar 140 juta kecambah, kemudian tahun berikutnya lagi 2013 menurun kembali menjadi sekitar 125 juta kecambah dan tahun 2014 juga menurun menjadi sekitar 102 juta kecambah. Adapun tahun 2015 ini diperkirakan kembali menurun menjadi 80 juta kecambah.

Adapun penurunan penjualan benih nasional disebabkan karena pertama, menurunnya harga CPO. Kedua karena adanya moratorium yang isinya larang terhadap pembukaan lahan perkebunan sawit yang baru, kecuali izin yang lama dan petani mandiri.

Artinya petani mandiri diperbolehkan membuka lahan demi kesejahteraan masyarakat. Alhasil pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit yang dilakukan oleh petani mandiri terus meningkat setiap tahunnya.

Luas Lahan Petani Mandiri Meningkat
Terbukti, berdasarkan catatan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian luas areal perkebunan petani mandiri tahun 2011 sebesar 3.752.480 hektar, tahun 2012 sebesar 4.137.620 hektar, dan tahun 2013 sebesar 4.356.087 hektar. Artinya jika melihat angka statistic, luas perkebunan rakyat setiap tahunnya meningkat sekitar 300.000 hektar lebih.

“Melihat hal tersebut maka sebenarnya pasar dari petani mandiri lebih terbuka lebar daripada perusahaan,” saran Tony yang juga Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi Produsen Benih Sawit Indonesia (FKPBSI).

Disisi lain, menurut Tony dengan perusahaan benih mendekatkan diri kepada petani mandiri maka akan memperkecil peluang petani untuk menggunakan benih asalan (tidak bersertifikat). Seperti diketahui dengan menggunakan benih asalan maka justru akan memperkecil produktivitas CPO. Hal itu karena tandan buah segar (TBS) yang dihasilkan lebih kecil hingga 50% jika dibandingkan dengan menggunakan benih berserifikat.

Namun untuk melakukan hal tersebut produsen benih tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Artinya seluruh produsen benih bersama pihak pemarintah baik ditingkat pusat ataupun daerah harus sama-sama terjun ke lapangan agar tidak ada lagi yang namanya penggunaan benih asalan.

“Maka jangan sampai karena sulitnya petani membeli benih, lalu terpaksa petani membeli benih dari luar yang tidak jelas dari mana asal usulnya,” harap Tony. YIN

Baca juga : Pasar Benih 2016 Menanjak Tipis

(Visited 41 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest