Pemerintah Mengakui Sawit Komoditas Strategis

Pemerintahan Joko Widodo mengakui bahwa komoditas kelapa sawit adalah komoditas strategis sehingga perlu didorong karena mempunyai efek yang besar terhadap ekonomi Indonesia terutama petani.

Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) membenarkan bahwa komoditas kelapa sawit adalah komoditas strategis untuk menopang perekonomian Indonesia. Sebab terbukti dari total luas areal perkebunan kelapa sawit yang ada saat ini hampir setengahnya dikuasai oleh petani. Untuk itu, pijaknya akan memberikan dukungan terhadap industri sawit.

Pernyataan tersebut dingkapkannya saat pelaku sawit yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara. Dalam pertemuan tersebut juga hadir tiga menteri kabinet kerja yaitu Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husen Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya dan Menteri Perdagangan Thomas Lembong.

Selain itu, dalam pertemuan tersebut GAPKI memaparkan data bahwa nilai ekspor minyak sawit sepanjang 2015 mencapai 18,64 milyar dollar AS. Sementara itu dari data Kementerian Perdagangan bahwa pemasukan ekspor dari migas sekitar 18 milyar dollar AS. Maka mengacu dari data tersebut tidaklah salah jika industri sawit termasuk industri penyumbang devisa terbesar non migas.

Dalam pertemuan tersebut, Joko Supriyono Ketua Umum GAPKI menjelaskan, meskipun komoditas kelapa sawit sebagai penopang ekonomi tapi saat ini terdapat kampaye negatif yang menyudutkan industri kelapa sawit. Hal ini dilakukan oleh beberapa pihak karena terkait dengan persaingan dagang.

Melihat hal ini maka harus meningkatkan kampanye positif sawit kepada masyarakat di dalam negeri. “Pasalnya, masyarakat belum paham peranan sawit. Dikit-dikit kalau ada kebakaran akan dikaitkan dengan kelapa sawit. Makanya, presiden minta kampanye sawit lebih digedein,” terang Joko.

Disisi lain, Joko menjelaskan, petani harus menjadi ikon dari industri sawit. Sebab, kepemilikan lahan petani mencapai 43% dari total luas perkebunan sawit di Indonesia. Artinya komoditas kelapa sawit ini tidak selalu berkorelasi dengan korporasi.

Hal senada diungkapkan, Menteri Perindustrian, Saleh Husin, bahwa pihaknya optimis bahwa bisa mendongkrak harga CPO. Tapi hal tersebut tidaklah semudah membalikan tangan. Artinya harga CPO akan kembali terkerek naik jika stok CPO berkurang, maka untuk mengurangi stok CPO yang ada saat ini program B20 harus segera terealisasi.

“Dengan sendirinya kalau penyerapannya sudah tinggi maka dengan sendirinya harga akan naik. Kalau harga naik tentu akan berdampak kepada masyarakat secara luas yang menguasai lahan sawit, baik yang mandiri maupun plasma sekitar 43 persen. Itu bisa lebih, penghasilannya lebih baik,” saran Saleh.

Lebih lanjut, menurut Saleh, agar program B20 benar0benar teralisasi maka pihaknya akan berkoordinasi dengan para stakeholder terkait seperti Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Hal ini perlu dilakukan agar industri otomotif mampu menyesuaikan produknya agar penyerapan B20 mampu berjalan optimal.

Lebih dari itu, bukan hanya B20 yang perlu direlasisasi tapi juga hilirisasi industri turunannya perlu dijaga. Sebab terbukti dari komoditas kelapa sawit bisa dibuat produk turunan yang beragam. Alhasil diharapkan dengan berkurangnya ekspor CPO karena banyak yang diserap untuk industri turunannya otomatis akan mengerek harga CPO.

“Hal ini karena industri sawit merupakan industri strategis yang sepenuhnya lokal dan perlu ditingkatkan nilai tambahnya,” jelas Saleh.

Terbukti berdasarkan catatannya, devisa yang dihasilkan dari industri sawit dan turunannya pada 2014 kira-kira sekitar US$ 21,7 miliar, meskipun sempat turun pada 2015 menjadi US$ 18,6 milliar. Namun harus diakui industri sawit mampu menyerap tenaga kerja langsung mencapai 6 juta orang.

Melihat hal ini maka harus mendukung program hilirisasi industri sawit agar mampu meningkatkan harga. Bahkan jika harga naik tentu akan berdampak kepada masyarakat secara luas yang menguasai lahan sawit, baik yang mandiri maupun plasma sekitar 43 persen. “Maka dengan mendorong hilirisasi diharapkan bisa berdampak kepada peningkatan penghasilan petani,” terang Saleh. YIN

Baca juga : Wow, Produksi Sawit 2016 Diprediksi Melorot

(Visited 16 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest